Perang Iran dan stok menipis picu dunia alami krisis alumunium

Senin, 20 April 2026

image

LONDON – Perang Iran memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar aluminium global dengan potensi efek domino yang menghancurkan di berbagai sektor seperti konstruksi, pengemasan, transportasi, dan energi hijau.

Seperti dikutip reuters.com (16/04/26), bahkan jika perang berakhir besok, mungkin butuh waktu hingga satu tahun bagi Emirates Global Aluminium untuk pulih dari kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan rudal di smelter Al Taweelah miliknya bulan lalu.

Aluminium Bahrain, pabrik produksi lokasi tunggal terbesar di luar China, juga telah terkena serangan, meskipun tingkat kerusakannya saat ini tidak diketahui. Alba telah mengurangi produksi sebelum serangan tersebut, seperti halnya Qatar Aluminium, karena kekurangan pasokan listrik.

Dengan pelayaran melalui Selat Hormuz yang sangat dibatasi, hilangnya produksi dapat meningkat lebih lanjut karena smelter kehabisan stok bahan baku mereka.

Pasar global menghadapi defisit pasokan hingga 4 juta metrik ton tahun ini, menurut perusahaan konsultan Wood Mackenzie.

Pembeli Barat akan menanggung beban terberat dari hantaman pasokan besar-besaran tersebut dan para pembuat kebijakan akan menghadapi beberapa pilihan sulit dalam beberapa minggu ke depan jika mereka ingin meredam dampaknya.

Cakupan Persediaan Menipis

Di masa lalu, pasar bisa saja beralih ke London Metal Exchange (LME) untuk mendapatkan logam tambahan. Persediaan terdaftar melebihi 5 juta ton pada paruh pertama dekade lalu.

Stok LME sejak itu telah menyusut menjadi di bawah 400.000 ton dengan 100.000 ton lainnya berada dalam kategori off-warrant.

Gudang-gudang CME juga telah terkuras. Total stok yang dapat dikirim telah merosot sebesar 70% sejak awal tahun dan kini hanya berjumlah 1.864 ton.

Bahkan angka-angka tersebut menipu. Logam Rusia, yang tidak dapat digunakan oleh banyak pengguna Barat karena sanksi yang dijatuhkan setelah invasi ke Ukraina, menyumbang 270.000 ton dari persediaan LME yang terdaftar pada akhir bulan Maret.

Para trader telah berebut komponen non-Rusia. Seseorang membatalkan 98.000 ton aluminium India yang terdaftar di LME pada minggu pertama bulan Maret, hanya untuk mendaftarkannya kembali (re-warrant) sebagian besarnya pada minggu lalu saat time-spreads meledak.

Patokan spread kas-ke-tiga-bulan melebar menjadi backwardation sebesar US$95,50 per ton, yang paling ketat di pasar sejak 2007.

Kendala Pasokan Listrik

Terdapat kapasitas smelter yang menganggur, khususnya di AS dan Eropa, yang secara teori dapat diaktifkan kembali untuk membantu meringankan tekanan pada pasokan logam fisik.

Namun, sebagian besar kapasitas ini dinonaktifkan selama krisis energi sebelumnya. Smelter memproduksi logam melalui elektrolisis, dan satu smelter pada umumnya dapat menggunakan daya listrik yang sama besarnya dengan kota seukuran Boston.

Mengingat dampak perang Iran terhadap harga energi, tampaknya sangat kecil kemungkinannya banyak, jika ada, dari kapasitas yang dipetieskan tersebut akan kembali beroperasi.

Memang, kekurangan daya listrik yang terjangkau secara global telah memaksa lebih banyak penutupan bahkan sebelum dimulainya permusuhan di Teluk.

Smelter aluminium Mozal di Mozambik, yang mayoritas dimiliki dan dioperasikan oleh South32 dari Australia, ditempatkan pada status perawatan dan pemeliharaan (care and maintenance) pada bulan Maret setelah perusahaan tersebut gagal mendapatkan kontrak pasokan listrik yang layak secara ekonomi.

Bahkan dengan mempertimbangkan produksi daur ulang yang lebih besar dan permintaan yang lebih lunak akibat hantaman energi pada aktivitas manufaktur, "tidak ada yang bisa menghindari defisit besar di pasar aluminium global selama 18 bulan ke depan," menurut Wood Mackenzie.

Pilihan Tidak Menyenangkan

Defisit tersebut akan dirasakan paling parah di Barat, yang akan memaksa pemerintah untuk membuat beberapa pilihan yang tidak menyenangkan.

Dua negara dapat membantu meringankan kekurangan tersebut.

Yang pertama adalah China, produsen aluminium terbesar di dunia. Masalahnya adalah China cenderung memproses sebagian besar logamnya menjadi produk setengah jadi seperti batang, pelat, dan kawat.

Negara-negara lain di dunia telah menghabiskan dekade terakhir untuk mendirikan hambatan perdagangan terhadap banjir ekspor China, menuduh Beijing merusak para pesaingnya.

Pengguna aluminium Barat membutuhkan logam primer dan paduan (alloy), bukan lebih banyak ekspor produk China yang murah.

Hal itu menyisakan Rusia, yang memproduksi logam primer dan berbagai paduan bernilai tambah yang diproduksi di Teluk.

Pabrikan Jepang sudah menunjukkan tanda-tanda kembali ke pasokan Rusia, setelah memberikan sanksi pada diri sendiri paska invasi 2022.

Pembeli AS dan Eropa akan membutuhkan pengecualian sanksi (sanction waivers) dari pemerintah untuk mengikuti langkah tersebut.

Situasi di Amerika Serikat diperparah oleh keputusan Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif impor aluminium menjadi 50%.

Hal tersebut telah membuat biaya ingot impor menjadi lebih dari US$2.500 per ton di atas harga LME, yang mana harganya sendiri melayang di level tertinggi dalam empat tahun sebesar US$3.580 per ton.

Untuk saat ini, hal tersebut tetap menjadi persamaan harga dan biaya. Semakin lama gangguan di Teluk berlangsung, semakin cepat stok menipis.

Pada tahap tertentu, hal ini mungkin tidak lagi menjadi soal harga sama sekali dan berubah menjadi soal ketersediaan logam yang cukup untuk memenuhi pesanan manufaktur. (SF)