EDGE delisting, pengendali pasang harga tender 140% lebih tinggi

Senin, 20 April 2026

image

JAKARTA – PT Indointernet Tbk (EDGE), perusahaan data centre di bawah Digital Edge Group, merencanakan tender sukarela dengan harga premium hingga Rp11.500 per lembar.

Padahal, rata-rata harga tertinggi perdagangan harian saham EDGE di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya mencapai Rp4.768 per lembar.

Bahkan, meski saham EDGE telah disuspensi sejak 10 Februari lalu, saat itu pun harga saham Perseroan ditutup hanya di level Rp4.790 per lembar.

Dengan kata lain, terdapat premium sekitar 140% dari harga saham EDGE. “Harga penawaran sebesar Rp11.500 per saham adalah harga yang lebih menarik dibandingkan harga historis Perseroan,” ujar manajemen dalam prospektus.

Keputusan ini masih harus menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 21 April 2026 esok.

Di sisi lain, 92,10% saham EDGE masih dikuasai oleh Digital Edge (Hong Kong) Ltd dan Digital Edge (HK) SPVI Limited, sedangkan sisa 7,9% saham disebut sebagai saham masyarakat.

Namun, berdasarkan data IDNFinancials.com, 7,5% saham EDGE dimiliki oleh UOB Kay Hian (Hong Kong) Ltd.

Dengan kata lain, saham yang benar-benar dapat ditransaksikan dengan bebas oleh publik hanya 0,4%, menjadikan EDGE salah satu saham tidak likuid di BEI.

Sebagai catatan, EDGE didirikan sebagai perusahaan penyedia layanan internet (internet service provider/ISP) pada 1994, sebelum akhirnya berubah haluan menjadi perusahaan data centre pada tahun 2020.

EDGE kini merupakan bagian dari ekosistem Digital Edge, yang merupakan mitra dan investor strategis Perseroan sejak debutnya di pasar modal Indonesia pada 2021 lalu.

Namun, kini terdapat perubahan strategi dalam grup Digital Edge, yang membuat kegiatan usaha EDGE akan ditopang oleh grup usaha tersebut, dan tak lagi memerlukan pendanaan publik.

Hal ini pada akhirnya mendorong Perseroan memutuskan untuk menghapus sahamnya dari papan BEI dan menjadi perusahaan tertutup.

Dengan aksi delisting ini, BEI akan kehilangan salah satu emiten data centre. Selain EDGE, hanya terdapat PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Dunia Virtual Online Tbk (AREA) yang fokus bergerak di sektor data centre.

Meski beberapa emiten konglomerasi besar masuk ke segmen tersebut—termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), PT Astra International Tbk (ASII)—umumnya lini data centre hanya dikelola lewat usaha patungan.

Misalnya, SM+ Data Centers yang dikelola DSSA dengan Korea Investment Real Asset Management (KIRA), Digital Realty Bersama milik konsorsium Saratoga dan Provident Capital, serta Equinix Indonesia milik JV ASII dan Equinix. (ZH)