Indonesia ekspor durian beku ke China senilai total Rp42,5 miliar
Senin, 20 April 2026

JAKARTA - Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengekspor 459 ton durian beku ke China pada Kamis.Seperti dikutip ANTARA, ekspor senilai Rp42,5 miliar (sekitar US$2,47 juta) tersebut diberangkatkan dari Palu, Sulawesi Tengah.Kepala Barantin Sahat M. Panggabean dalam keterangan resmi, Jumat, mengatakan keberhasilan ini merupakan hasil proses panjang pembukaan akses pasar setelah penandatanganan protokol ekspor durian beku Indonesia–China pada 25 Mei 2025.Ia menegaskan, tembusnya durian Indonesia ke pasar China merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari petani hingga pemerintah.Hingga saat ini, tercatat 151 kontainer durian telah dikirim ke China dengan nilai ekonomi mencapai Rp377,5 miliar.Sebelumnya, ekspor durian Indonesia ke China tidak dilakukan secara langsung dan harus melalui negara perantara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.Dengan jalur langsung, waktu pengiriman kini dapat dipangkas dari sekitar 56 hari menjadi 22–26 hari, sekaligus menurunkan biaya distribusi hingga setengahnya sehingga memperbaiki arus kas pelaku usaha.Barantin memastikan kualitas dan keamanan produk ekspor tetap terjaga sesuai standar internasional guna mempertahankan kepercayaan pasar global.Kepala Karantina Sulawesi Tengah Alfian menyebutkan, sepanjang Januari hingga April 2026, ekspor durian beku ke China telah mencapai 4.077 ton.Selain efisiensi logistik, ekspor langsung juga membuka potensi keuntungan besar karena harga durian di China bisa lima hingga tujuh kali lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri.Sulawesi Tengah kini menjadi salah satu daerah utama pengekspor, dengan tujuh dari delapan rumah kemas durian beku bersertifikat ekspor berada di wilayah tersebut.Data pemerintah provinsi menunjukkan Sulawesi Tengah memiliki sekitar 3,7 juta pohon durian dengan produksi mencapai 95.140 ton pada 2025, tersebar di berbagai daerah seperti Poso dan Parigi Moutong.Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menilai ekspor langsung ini semakin memperkuat posisi daerahnya sebagai pusat durian Indonesia yang mampu menembus pasar global.Pemerintah juga melihat tingginya permintaan durian di China, yang mencapai sekitar US$8 miliar per tahun, sebagai peluang besar untuk meningkatkan devisa negara. (DK)