Kilang ASEAN tutup unit dan pangkas produksi demi bertahan

Senin, 20 April 2026

image

BANGKOK – Kilang-kilang di Malaysia dan Singapura memangkas operasi atau menutup unit karena gangguan pasokan Timur Tengah menekan aliran minyak mentah dan menaikkan biaya.

Seperti dikutip nationthailand.com (18/04/26), kilang-kilang di seluruh Asia Tenggara menutup unit dan memangkas produksi karena gangguan pasokan minyak mentah Timur Tengah memaksa operator untuk memprioritaskan kelangsungan hidup di atas kondisi bisnis normal.

Tekanan semakin intensif karena Asia, yang sangat bergantung pada pergerakan minyak dan gas melalui Selat Hormuz, terus merasakan gempa susulan (aftershocks) dari perang AS-Israel dengan Iran dan lonjakan harga minyak mentah yang diakibatkannya.

Perang dan penghentian aliran melalui Selat Hormuz telah memicu kekurangan bahan baku (feedstock) dan mendongkrak biaya pengiriman serta energi di seluruh kawasan.

Hal itu tidak hanya memperketat ketersediaan minyak mentah bagi kilang-kilang Asia, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran yang lebih luas atas inflasi, biaya transportasi, dan penundaan pengiriman produk minyak bumi serta petrokimia.

Di antara yang terkena dampak paling parah adalah kilang-kilang besar di Malaysia dan Singapura, di mana operator terpaksa melakukan pengurangan tajam.

  • Di Malaysia, Pengerang Refining and Petrochemical, atau PRefchem, telah menutup unit minyak mentahnya yang berkapasitas 300.000 barel per hari dan sedang bersiap untuk menghentikan lebih banyak unit hilir karena kekurangan bahan baku minyak mentah. Kilang tersebut sebelumnya telah beroperasi pada kapasitas sekitar 50% sebelum penutupan penuh.

  • Di Singapura, Singapore Refining Co telah memangkas operasi di kilang Pulau Jurong menjadi sekitar 60%, turun dari sebelumnya sekitar 75%, sementara ExxonMobil telah mengurangi operasi minyak mentah di lokasi Singapuranya menjadi kira-kira 50% atau lebih rendah dari sebelumnya lebih dari 80%. Pengurangan tersebut mencerminkan penundaan pengiriman dan pengetatan pasokan minyak mentah yang terkait dengan gangguan di Timur Tengah.

Gangguan ini sangat parah karena kilang-kilang di Asia Tenggara sangat bergantung pada minyak mentah Timur Tengah. Lebih dari 70% impor minyak mentah lintas laut PRefchem tahun lalu datang melalui Selat Hormuz, sementara sebagian besar sistem penyulingan di kawasan ini bergantung pada rute yang sama untuk aliran bahan baku reguler.

Sebagai hasilnya, kilang-kilang di kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas juga mulai memangkas operasi atau menutup unit untuk sementara waktu, dengan operator semakin fokus pada kelangsungan komersial dan pengendalian biaya.

Hal itu telah menyebabkan pengurangan produksi di beberapa negara saat perusahaan berusaha menghemat bahan baku yang terbatas dan menahan kerugian yang meningkat.

Namun, PTT dari Thailand terus beroperasi secara normal, dengan alasan bahwa keamanan energi nasional harus diutamakan meskipun operator lain lebih menekankan pada manajemen bisnis.

Pada 11 April, kapal tanker Serifos, yang disewa oleh PTT, membawa hingga 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi dan UEA dan telah keluar dari Teluk selama jendela gencatan senjata. Kapal tersebut menuju Malaysia dan diperkirakan akan segera tiba di Thailand.

Keputusan PTT untuk mengamankan minyak mentah selama periode pengetatan pasar yang ekstrem pastinya datang dengan biaya tinggi, dengan pembeli yang bersaing untuk mendapatkan pasokan terbatas saat harga naik tajam.

Minyak mentah menyentuh sekitar US$130 per barel dan PTT bisa menghadapi risiko jangka pendek berupa kerugian senilai sekitar 500 juta hingga 1 miliar baht jika harga minyak global turun di kemudian hari.

Namun demikian, gambaran yang lebih luas sudah jelas: Thailand berusaha melindungi keamanan energi domestik bahkan ketika kilang-kilang di seluruh kawasan mundur untuk mempertahankan operasi. (SF)