Mata uang Asia melemah, rupiah menguat ke Rp17.170 per dolar AS

Senin, 20 April 2026

image

JAKARTA - Sebagian besar mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (20/4).

Tekanan terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global, dipicu meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Berdasarkan data Refinitiv, hingga pukul 09.15 WIB, 8 dari 11 mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Sementara 2 mata uang menguat dan 1 lainnya stagnan.

Peso Filipina menghadapi penurunan paling dalam yaitu 0,66% ke level 60/US$ . Won Korea Selatan juga melemah 0,48% ke 1.473,47/US$, disusul baht Thailand yang turun 0,44% ke 32,03/US$, mengutip dari CNBC Indonesia.

Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,20% ke 1,272/US$ , yen Jepang turun 0,15% ke 158,86/US$, dolar Taiwan melemah 0,09% ke TWD 31,49/US$, dong Vietnam turun 0,08% ke 26.334/US$, dan yuan China melemah tipis 0,05% ke 6,81/US$.

Di tengah tekanan tersebut, rupiah justru menguat 0,06% ke level 17.170/US$. Rupee India juga menguat tipis 0,02% ke 92,58/US$.

Penguatan dolar AS tercermin dari indeks dolar (DXY) yang naik 0,21% ke 98,306, level tertinggi dalam sepekan.

Kenaikan ini terjadi setelah ketegangan AS-Iran kembali meningkat, setelah AS menyita kapal kargo Iran dan disusul ancaman balasan dari Teheran.

Situasi geopolitik tersebut kembali meningkatkan “premi risiko” di pasar, di saat sebelumnya investor sempat berharap meredanya konflik.

Kenaikan harga minyak juga dinilai jadi perhatian investor, karena berpotensi memicu inflasi dan memengaruhi prospek pertumbuhan dan suku bunga global.

Perang yang telah berlangsung selama delapan pekan turut mengganggu jalur pasokan energi, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting pengiriman minyak dunia.

Sejumlah pihak menilai kondisi ini mendorong investor kembali mencari aset aman seperti dolar AS, sehingga menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk di Asia. (DK/KR)