Lalu lintas Selat Hormuz terhenti, harga minyak melonjak 5%
Senin, 20 April 2026

JAKARTA - Harga minyak melonjak lebih dari 5% pada Senin (20/4), dipicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dapat runtuh setelah AS menyita sebuah kapal kargo Iran, sementara lalu lintas melalui Selat Hormuz masih sebagian besar terhenti.
Seperti dikutip Reuters, kontrak berjangka Brent naik US$4,81 atau 5,32% menjadi US$95,19 per barel pada pukul 06.38 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS berada di US$88,81 per barel, naik US$4,96 atau 5,92%.
Kedua kontrak sempat anjlok 9% pada Jumat, penurunan harian terbesar sejak 18 April, setelah Iran menyatakan jalur bagi seluruh kapal dagang di Selat Hormuz kembali dibuka selama periode gencatan senjata, dan Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah sepakat untuk tidak menutup selat tersebut lagi.
Namun, menurut June Goh, analis senior pasar minyak di Sparta Commodities, situasi kembali memburuk, Mengutip dari Reuters.
“Dalam 24 jam setelah pengumuman ‘terbuka sepenuhnya’ pada Jumat, sudah ada kapal tanker yang ditembaki oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sehingga meningkatkan kekhawatiran pelayaran untuk melewati wilayah itu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi fundamental pasar semakin memburuk karena sekitar 10–11 juta barel per hari produksi minyak masih tidak dapat beroperasi.
Pada Minggu, Amerika Serikat mengatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokadenya.
Iran menanggapi dengan ancaman balasan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan dimulainya kembali konflik.
Teheran juga menyatakan tidak akan mengikuti putaran kedua perundingan yang diharapkan AS dapat dimulai sebelum masa gencatan senjata dua minggu berakhir pekan ini.
AS diketahui tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran sempat mencabut lalu kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz, yang sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik dimulai hampir dua bulan lalu.
“Pasar minyak terus bergejolak mengikuti pernyataan di media sosial dari AS dan Iran, bukan berdasarkan kondisi lapangan yang masih sulit untuk memulihkan arus minyak dengan cepat,” kata Saul Kavonic, kepala riset MST Marquee.
Ia menambahkan bahwa pengumuman pembukaan Selat Hormuz terbukti terlalu dini, dan pelaku pelayaran kini akan jauh lebih berhati-hati untuk kembali melintas tanpa jaminan yang lebih kuat.
Data Kpler menunjukkan lebih dari 20 kapal melintasi selat tersebut pada Sabtu, membawa minyak, gas petroleum cair, logam, dan pupuk, jumlah tertinggi sejak 1 Maret. (DK)