Co Founder East Ventures Willson Cuaca: Integritas founder jadi kunci

Jumat, 28 November 2025

image

JAKARTA – Gelombang kejatuhan eFishery, Investree, TaniHub–TaniFund, hingga Zenius mengguncang ekosistem startup Indonesia dan memaksa para pelaku industri mengevaluasi ulang tata kelola, desain insentif, dan ketahanan model bisnis.

Dikutip dari marketing-interactive.com (27/11), Wright Partners menilai banyak start up nasional, termasuk yang didukung korporasi, terjebak dalam desain bisnis yang lemah, insentif yang tidak selaras, serta eksekusi yang buruk. Fenomena serupa juga terlihat pada kegagalan sejumlah startup yang selama ini mengandalkan valuasi tinggi dan momentum pasar.

Dalam Tech in Asia Conference 2025, investor dan founder sepakat bahwa pemulihan kepercayaan harus dimulai dari tata kelola, transparansi, serta karakter pendiri.

Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, menegaskan bahwa integritas founder kembali menjadi faktor penentu. “Ada kegagalan dengan integritas, dan ada kegagalan tanpa integritas,” ujarnya.

Achmad Zaky, Founding Partner Init-6, mengingatkan bahwa hanya sebagian kecil startup yang terseret skandal, sementara mayoritas tetap membangun bisnis secara sehat. Industri, katanya, perlu kembali fokus pada penciptaan nilai yang nyata.

Di tengah pemberitaan negatif, peran media juga dinilai krusial dalam menjaga keseimbangan narasi. Willson menilai jika hanya sisi gelap yang disorot, maka “kegelapan adalah ketiadaan cahaya”, aktor baik tidak terlihat dan kepercayaan publik semakin tergerus.

Meski tingkat kegagalan tinggi, Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat hanya sekitar 10% startup Indonesia yang bertahan, angka ini masih lebih baik dibanding rata-rata global.

Ziv Ragowsky dari Wright Partners menambahkan bahwa model venture building memberi peluang sukses lebih besar, dengan kecepatan pencapaian pendanaan yang lebih tinggi.

Dari sisi kebijakan, pemerintah menekankan perlunya ekosistem yang memungkinkan startup tumbuh sekaligus gagal, melalui dukungan talenta, regulasi yang stabil, dan perluasan jaringan inovasi hingga ke luar kota-kota besar.

Fundamental Indonesia dinilai tetap kuat: pasar yang besar, populasi digital-savvy, dan generasi muda yang semakin terdidik.

Dengan investor yang kini lebih matang dan selektif, Willson menegaskan bahwa modal tetap tersedia bagi mereka yang mampu menunjukkan penciptaan nilai. “Uangnya ada. Mereka yang terus membangun akan mendapatkan pendanaan,” katanya. (DH)