Armada AS melintas Malaka, susul 3 kapal induk yang siaga di Hormuz ?

Selasa, 21 April 2026

image

JAKARTA - Sebuah kapal perang Amerika Serikat melintasi Selat Malaka pada akhir pekan lalu, di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menyatakan pelayaran tersebut sesuai dengan hukum internasional.

Seperti dikutip freemalaysiatoday, juru bicara TNI AL Laksamana Pertama Tunggul mengatakan kapal tersebut melintas pada Sabtu, 18 April. Selat Malaka yang membentang sekitar 900 kilometer merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia dengan Timur Tengah dan Eropa, serta dilalui sekitar 25% perdagangan global.

Dari pihak militer AS, Komando Indo-Pasifik mengidentifikasi kapal tersebut sebagai USS Miguel Keith. Juru bicara United States Indo-Pacific Command, Matthew Comer, menyebut kapal itu tengah menjalankan operasi rutin di bawah Armada Ketujuh AS.

Comer tidak merinci tujuan pelayaran dengan alasan kebijakan keamanan, namun menyebut kapal tersebut sempat menjalani perawatan di Korea Selatan pada awal April. Angkatan Laut AS menjelaskan USS Miguel Keith merupakan kapal sepanjang 240 meter yang berfungsi sebagai pangkalan komando terapung, dilengkapi fasilitas untuk operasi helikopter, kapal kecil, serta akomodasi pasukan.

“Setiap kapal, termasuk kapal perang yang melintas di perairan tersebut, memiliki hak lintas transit yang dapat dilaksanakan di selat yang digunakan untuk navigasi internasional atau pengiriman internasional,” kata juru bicara TNI AL.

TNI AL menegaskan seluruh kapal yang melintas wajib menghormati Indonesia sebagai negara pantai serta mematuhi aturan internasional keselamatan pelayaran, termasuk ketentuan pencegahan tabrakan di laut.

Di saat yang sama, United States Navy meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan hingga tiga kapal induk nuklir. Langkah ini berlangsung di tengah konflik yang masih berlanjut dengan Iran.

Seperti dikutip forbes, kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) mencatat penugasan panjang dengan 299 hari berlayar, melampaui rekor pasca-Perang Vietnam milik USS Abraham Lincoln (CVN-72). Kapal ini berpotensi menjalani penugasan hingga 11 bulan, mendekati rekor USS Midway (CVA-41) pada 1972–1973.

USS Gerald R. Ford bersama kapal pengawalnya melintasi Terusan Suez dan kini beroperasi di Laut Merah dalam wilayah tanggung jawab United States Central Command. Sebelumnya, kapal ini sempat kembali ke pelabuhan untuk perbaikan setelah insiden kebakaran pada Maret, sebelum melanjutkan operasi awal April.

Penempatan ini merupakan perubahan dari rencana awal, setelah kapal tersebut dialihkan ke Timur Tengah pada Februari. Dalam operasi terbaru, kelompok tempur kapal induk ini mendukung USS Abraham Lincoln (CVN-72) yang lebih dulu berada di kawasan. Kedua kapal induk terlibat dalam serangan udara terhadap Iran sebagai bagian dari Operation Epic Fury yang berlangsung sejak akhir Februari.

Selain itu, kapal induk USS George H.W. Bush (CVN-77) dilaporkan tengah menuju kawasan dengan rute memutar melalui Tanjung Harapan. Pergerakan ini memicu spekulasi bahwa armada AS menghindari Selat Bab el-Mandeb yang dinilai berisiko, termasuk ancaman dari kelompok Houthi.

Meski tidak melintasi jalur tersebut, kemampuan proyeksi kekuatan udara dari kapal induk memungkinkan AS tetap menjangkau target di Iran jika operasi militer berlanjut.

Di sisi lain, Angkatan Laut AS membantah laporan mengenai kekurangan pasokan makanan di kapal. “Makanan segar. Layanan lengkap. Siap menjalankan misi. Para pelaut di atas USS Abraham Lincoln dan USS Tripoli terus menerima makanan yang disiapkan secara teratur di laut tanpa gangguan, tanpa kekurangan.”

Belum ada kepastian berapa lama armada AS akan bertahan di kawasan. Pemerintah AS menyatakan negosiasi dengan Iran akan dilanjutkan di Pakistan sebelum masa gencatan senjata berakhir pekan ini. (DH)