Ekspor minyak lumpuh meski Hormuz dibuka, Kuwait perluas force majeure

Selasa, 21 April 2026

image

JAKARTA - Kuwait memperpanjang status force majeure atas pengiriman minyak mentah dan produk olahan karena belum mampu memenuhi kewajiban kontrak secara penuh, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka.

Seperti dikutip bloomberg, Kuwait Petroleum Corporation menyampaikan pemberitahuan tersebut kepada pelanggan pada Jumat, berdasarkan dokumen yang dilihat Bloomberg News. Sebelumnya, status serupa telah diberlakukan sejak awal Maret.

Gangguan pada infrastruktur minyak membuat produksi Kuwait turun ke level terendah sejak awal 1990-an. Sumber yang mengetahui situasi ini menyebut pemulihan operasi tidak akan berlangsung cepat meski konflik mereda.

Perang Iran menghentikan hampir seluruh lalu lintas di Selat Hormuz, menyebabkan penumpukan pasokan di tangki penyimpanan dan mengguncang pasar minyak global. Jalur ini merupakan arteri utama ekspor energi negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak kemungkinan memperpanjang gencatan senjata dua pekan dengan Iran. Gencatan senjata yang diumumkan 7 April akan berakhir “Rabu malam waktu Washington,” kata Trump, mungkin untuk mengulur waktu demi negosiasi. Hormuz akan tetap diblokir untuk saat ini, katanya.

Sejumlah negara di kawasan telah memangkas produksi energi akibat blokade dan serangan Iran. Pemerintah AS memperkirakan lebih dari 9 juta barel per hari produksi minyak akan terhenti sepanjang April. Pejabat Kuwait menyatakan produksi dapat kembali ke level sebelum perang dalam beberapa bulan setelah konflik berakhir.(DH)