MSCI tendang BREN dan DSSA, kasta RI tetap di emering market?
Selasa, 21 April 2026

JAKARTA – Pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) tengah menilai konsistensi dan efektivitas kebijakan baru dari regulator pasar modal Indonesia.
Dalam pengumuman yang disampaikan Senin (20/4) malam waktu London, MSCI mengaku telah menerima rangkaian reformasi transparansi pasar modal Indonesia.
Beberapa langkah yang telah diketahui MSCI termasuk pengungkapan data kepemilikan saham di atas 1%, granularisasi kategori investor, data saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), dan roadmap peningkatan batas minimum free float menjadi 15%.
“MSCI tengah menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas sumber data serta kebijakan baru tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian kelayakan investasi secara lebih luas,” ungkap MSCI dalam pengumumannya.
Meskipun demikian, MSCI tetap mempertahankan sikapnya terhadap saham-saham dari Indonesia, seperti diumumkan sebelumnya.
Sehingga tidak ada perubahan pada Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak ada penambahan saham baru ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), dan tidak ada peningkatan klasifikasi ukuran saham termasuk dari Small Cap ke Standard.
Selain itu, MSCI juga akan menghapus saham-saham Indonesia yang masuk dalam daftar HSC. Sehingga dua saham anggota MSCI yang masuk dalam daftar ini yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dipastikan keluar dari indeks MSCI.
Mengenai pengungkapan data pemegang saham di atas 1%, MSCI akan mempertimbangkan penggunaan data tersebut. Meskipun pada waktu yang sama, mereka menutup opsi penggunaan data tersebut sebagai basis penilaian free float hingga mendapat masukan dari pelaku pasar.
“Pendekatan ini bertujuan membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas, sambil memberikan waktu untuk evaluasi lebih lanjut atas reformasi yang baru diumumkan,” jelas MSCI.
Risiko kasta Indonesia turun ke emerging marketRiset Stockbit Sekuritas Digital menilai pengumuman terbaru dari MSCI sesuai dengan ekspektasi awal, serta menyebut risiko penurunan kasta RI ke frontier market sebagai tail-risk.
“Tidak ada sinyal baru yang mengarah pada eskalasi risiko downgrade, di mana MSCI mengakui reformasi yang telah dilakukan dan memilih untuk melanjutkan proses asesmen, bukan eskalasi tindakan,” tulis riset Stockbit Sekuritas, yang disampaikan hari ini.
Dalam pengumuman akhir Januari 2026 lalu, MSCI memang menyebut risiko perubahan status Indonesia dari emerging market ke frontier market, terutama jika tidak ada upaya perbaikan pada transparansi di pasar modal.
Namun MSCI tidak lagi menyinggung risiko tersebut, dan hanya menekankan langkah otoritas pasar modal Indonesia, sejalan dengan proposal MSCI.
Ke depan, investor dinilai perlu hasil tinjauan aksesibilitas pasar dari MSCI sebelum Juni 2026, sebagai penanda apakah pembekuan dicabut. Selain itu, investor juga dinilai perlu mencermati metodologi MSCI dalam menggunakan data pemegang saham di atas 1% untuk basis penghitungan free float. (KR)