Tenggat AS-Iran tekan pasar, ancaman minyak US$200 menguat
Selasa, 21 April 2026

JAKARTA - Tenggat 22 April menandai berakhirnya gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah negosiasi yang masih berlangsung sejak 8 April. Penutupan Selat Hormuz oleh Teheran yang terjadi berulang serta blokade laut Washington terhadap pelabuhan Iran mencerminkan dinamika perundingan yang belum stabil.
Seperti dikutip oilprice, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, menyebut adanya “terobosan bersejarah”. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menegaskan kemajuan pembicaraan. Presiden AS, Donald Trump, bahkan menyatakan kedua pihak hampir mencapai kesepakatan.
Namun, sumber keamanan Uni Eropa mengungkap adanya perbedaan tajam antara Kementerian Luar Negeri Iran dan Islamic Revolutionary Guards Corps, terutama soal konsesi kunci. Trump memperingatkan jika tidak ada kesepakatan hingga tenggat, ia “Mungkin tidak akan diperpanjang” gencatan senjata dan AS akan “mulai menjatuhkan bom lagi”.
Selain itu, 1 Mei menjadi batas hukum bagi Trump untuk meminta persetujuan Kongres guna melanjutkan operasi militer berdasarkan War Powers Act, setelah mencapai 60 hari pada 29 April.
Jika kesepakatan belum tercapai tetapi gencatan senjata diperpanjang, AS diperkirakan mempertahankan tekanan. Langkahnya meliputi blokade pelabuhan Iran dan penguatan kehadiran militer di kawasan, termasuk pengerahan kapal induk USS George H. W. Bush.
“Pasukan (Angkatan Laut AS dan pasukan lainnya) dapat melakukan segala yang mereka perlukan untuk memantau dan menegakkan blokade Iran dari Laut Arab, dan itu saja yang perlu mereka lakukan agar Iran mulai merasakan dampak ekonomi dari penutupan tersebut,” kata sumber di Washington.
AS juga tidak memperpanjang pengecualian sanksi ekspor minyak Iran dan memperketat sanksi finansial. Kebijakan ini dinilai akan menekan China, yang selama ini menjadi pembeli utama minyak Iran. Dalam skenario ini, sumber Uni Eropa menilai AS kemungkinan akan membuka kembali Selat Hormuz untuk meredam lonjakan harga energi.
Skenario terburuk muncul jika tidak ada kesepakatan dan gencatan senjata berakhir. Iran diperkirakan akan melanjutkan penutupan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk, serta menargetkan kepentingan AS dan sekutunya.
“Jika Iran menempuh jalur ini, maka kami akan mempertimbangkan opsi yang lebih besar dari pihak kami,” kata sumber Washington, merujuk pada potensi serangan terhadap infrastruktur dan operasi militer tambahan.
Dalam kondisi ini, harga minyak berpotensi melonjak tajam. Analis energi global dari Macquarie Group, Vikas Dwivedi, menyebut harga bisa menembus US$200 per barel jika Selat Hormuz ditutup dalam waktu lama.
“Jika Selat (Hormuz) tetap tertutup untuk jangka waktu yang lama, harga perlu naik cukup tinggi untuk menghancurkan sebagian besar permintaan minyak global dalam sejarah,” ujarnya. Ia menambahkan harga tersebut setara dengan harga bensin AS sekitar US$7 per galon.
Lonjakan harga minyak berisiko besar bagi ekonomi AS. Setiap kenaikan US$10 per barel dapat mendorong harga bensin naik 25-30 sen per galon. Kenaikan 1 sen saja dapat mengurangi belanja konsumen lebih dari US$1 miliar per tahun.
Secara politik, kondisi ekonomi menjadi faktor krusial. Presiden petahana di AS cenderung menang pemilu jika ekonomi tidak dalam resesi, namun peluang itu menurun drastis jika resesi terjadi. Sumber AS dan Uni Eropa menilai kesepakatan tetap mungkin tercapai. Fokus utama mencakup program nuklir Iran, pembatasan rudal, hingga dukungan terhadap kelompok proksi.
Kemajuan telah terlihat pada isu nuklir. Iran disebut bersedia menangguhkan pengayaan uranium, meski masih berbeda pandangan soal durasi-lima tahun dari Iran versus minimal 20 tahun dari AS. Iran juga sepakat secara prinsip mengurangi stok uranium yang diperkaya, meski mekanisme pelaksanaannya masih diperdebatkan.
“Iran pada prinsipnya telah menyetujui penghentian sementara pengayaan uraniumnya, dengan satu-satunya perbedaan adalah durasinya,” kata sumber Uni Eropa. (DH)