Gelontorkan dana besar, Australia fokus bangun pertahanan anti drone

Selasa, 21 April 2026

image

CANBERRA - Australia berencana menggelontorkan dana besar untuk membangun sistem pertahanan anti-drone, seiring konflik di Iran dan Ukraina yang menunjukkan betapa efektifnya kendaraan tanpa awak dalam lanskap keamanan global yang terus berubah.

Menteri Industri Pertahanan, Pat Conroy, pada hari Selasa mengumumkan dua kontrak awal sebagai bagian dari langkah tersebut.

Seperti dikutip Bloomberg, kontrak pertama diberikan kepada perusahaan berbasis di Melbourne, Sypaq, untuk pengembangan drone pencegat kecil.

Sementara itu, kontrak kedua diberikan kepada AIM untuk teknologi senjata laser yang dirancang menembak jatuh drone serangan udara.

Total nilai kedua kontrak ini mencapai A$30 juta, dengan rencana pemerintah mengalokasikan hingga A$7 miliar untuk pengembangan sistem serupa.

Investasi ini mencerminkan perubahan pola peperangan yang pertama kali terlihat di Ukraina dan kemudian di Iran, di mana drone menjadi senjata serangan yang sangat efektif sekaligus relatif murah.

Amerika Serikat dan negara lain bahkan harus menggunakan rudal bernilai jutaan dolar untuk menghancurkan drone yang biaya produksinya hanya ribuan dolar.

Karena itu, alternatif seperti drone pencegat dan senjata laser dinilai lebih efisien, karena mampu menekan biaya sekaligus mempertahankan penggunaan sistem pertahanan rudal mahal untuk ancaman yang lebih kompleks.

Menurut Conroy, langkah ini bertujuan menyeimbangkan kembali rasio biaya dan manfaat demi kepentingan Angkatan Pertahanan Australia.

Pengembangan sistem anti-drone ini merupakan bagian dari peningkatan anggaran pertahanan terbesar Australia di masa damai, dengan tambahan dana sebesar A$53 miliar dalam sepuluh tahun ke depan.

Dana tersebut juga akan digunakan untuk membangun fregat baru bagi angkatan laut, sistem pertahanan udara modern, senjata jarak jauh, serta memperluas penggunaan teknologi tanpa awak di udara dan laut.

Australia juga berupaya memperkuat daya tangkalnya melalui pengembangan drone dan rudal, yang akan melengkapi rencana armada kapal selam bertenaga nuklir dalam kerangka kerja sama Aukus bersama Amerika Serikat dan Inggris, yang ditargetkan beroperasi pada 2030-an.

Selain itu, pemerintah sebelumnya mengumumkan investasi besar untuk mengembangkan kapal selam tanpa awak “Ghost Shark,” dengan unit pertama diperkirakan mulai digunakan tahun ini.

Australia juga tengah mengembangkan pesawat tempur tanpa awak “Ghost Bat,” yang diproduksi Boeing dan kini juga ditawarkan ke Jerman.

Langkah modernisasi militer ini dilakukan untuk menghadapi meningkatnya kehadiran militer China di kawasan Asia-Pasifik.

Sebuah laporan pemerintah pada 2023 bahkan menyebutkan bahwa kekuatan militer Australia saat itu belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan strategis yang ada. (DK)