KEJU bagi dividen Rp89,88 miliar, 23% lebih tinggi dari tahun lalu
Selasa, 21 April 2026

JAKARTA – PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), produsen keju dengan merek utama Prochiz, menetapkan penggunaan 50,09% laba bersih 2025 sebagai dividen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Selasa (21/4).
Perseroan memutuskan pembagian dividen sebesar Rp16 per saham atau setara Rp89,88 miliar yang akan dibayarkan pada 13 Mei 2026 kepada pemegang saham yang tercatat per 1 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Angka ini 23,1% lebih tinggi dari alokasi dividen tahun buku 2024 sebesar Rp13 per lembar, sejalan dengan peningkatan kinerja keuangan Perseroan.
Mengacu pada harga saham KEJU di level Rp560 per saham pada perdagangan Selasa (21/4) pukul 14.44 WIB, maka yield dividen total tahun buku 2025 tercatat sekitar 2,85%.
Selain pembagian dividen, Perseroan menetapkan Rp200 juta sebagai cadangan wajib sesuai ketentuan regulasi, serta sekitar Rp89,35 miliar sebagai cadangan umum.
Seperti yang telah diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, KEJU mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,1% secara tahunan menjadi Rp179,44 miliar, didorong kenaikan penjualan bersih 19,1% menjadi Rp1,50 miliar.
“Saat ini kami masih menjadi keju nomor 1 di Indonesia, untuk itu kami siap menjadi mitra bagi berbagai pihak untuk meningkatkan penetrasi keju pada masyarakat Indonesia agar pertumbuhan kinerja tahun ini senantiasa terus berkelanjutan ke depannya,” kata Indrasena di Jakarta, Selasa (21/4).
Selain pangsa pasar yang tinggi (40%), ia menambahkan bahwa salah satu faktor pendorong kinerja KEJU ke depannya adalah program pemerintah Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang kini memasukkan produk keju ke dalam menunya.
Selain itu, KEJU juga berencana memperluas ekspansi ekspor ke Asia Tenggara, serta menjajaki wilayah baru di luar kawasan tersebut. Menurut manajemen Perseroan, peningkatan kinerja ekspor juga dapat menghalau dampak nilai tukar rupiah yang kian melemah.
Di tahun 2026, KEJU juga akan memperkuat kapasitas produksinya dengan pabrik baru di Sumedang, yang ditargetkan beroperasi pada Juli mendatang,
Lebih lanjut, meski diterpa risiko kenaikan biaya produksi dan operasional akibat isu global dan makro, Indrasena menambahkan bahwa pihak KEJU sampai saat ini belum menaikkan harga jual guna menjaga tingkat affordability produk untuk kalangan luas.
Menurutnya, Perseroan akan berpegang teguh pada misinya untuk “membuat keju yang merakyat, dan merakyatkan keju.” “Peningkatan harga itu opsi terakhir,” tegasnya dalam gelaran Paparan Publik Perseroan, Selasa (21/4). (DK/ZH)