Sentimen MSCI jadi pemberat, IHSG menguji level ini

Rabu, 22 April 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak sideways pada perdagangan Rabu (22/4) hari ini, serta cenderung melemah akibat sentimen pembekuan rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Analis Phintraco Sekuritas menilai pengumuman MSCI yang disampaikan Senin (20/4) malam kemarin, memang mengurangi kekhawatiran investor karena tidak lagi menyinggung perubahan status Indonesia ke frontier market.

Namun evaluasi yang tengah dilakukan oleh pengelola indeks global terhadap inisiatif reformasi pasar modal Indonesia, dinilai menjadi sentimen negatif yang membuat IHSG turun 0,46% pada perdagangan Selasa (22/4) kemarin.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat bagi IHSG, menyusul pernyataan MSCI yang akan menghapus saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi oleh sebagian kelompok.

Secara teknikal, analis Phintraco menyebut indikator Stohcastic RSI pada IHSG saat masih berada di area jenuh beli (overbought).

“IHSG sudah menutup gap down di 7.527 dan masih bertahan di atas level 7.500. Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 7.500-7.650,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor hari ini.

Dari mancanegara, analis Phintraco menilai pelaku pasar saat ini mencermati prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang belum menemukan komitmen positif dari masing-masing negara.

Namun dalam pernyataan terbarunya lewat akun Truth Social, Trump menyatakan AS memperpanjang gencatan senjata hingga ada pembicaraan lanjutan dengan Iran. Namun militer AS tetap melanjutkan aksi blokade di Selat Hormuz.

Pernyataan yang disampaikan setelah penutupan perdagangan di Wall Street pada Selasa (21/4) kemarin ini, membuat kontrak berjangka S&P 500 naik 0,4%.

Sementara harga minyak mentah brent tetap melanjutkan penguatan 3,14% ke US$98,48 per barel hingga pukul 7.00 WIB, serta WTI naik 1,09% ke US$90,06 per barel. (KR)