Amerika ingin ekspor minyak ke India, tapi kalah harga lawan Rusia
Rabu, 22 April 2026

NEW YORK - Amerika Serikat berupaya meningkatkan ekspor minyak mentah dan gas alam ke India, negara dengan ketergantungan impor energi terbesar di dunia.Dengan kebutuhan energi yang sangat tinggi, India menjadi pasar yang menarik bagi negara produsen, mengutip dari OILPRICE.Namun, hingga kini AS belum menjadi pemasok utama ke negara tersebut karena berbagai hambatan yang tidak mudah diatasi.Pekan lalu, Duta Besar AS untuk New Delhi, Sergio Gor, mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu dengan Menteri Energi India, Hardeep Singh Puri.Pertemuan itu membahas upaya memperluas akses energi Amerika yang dinilai dapat memperkuat hubungan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan dan diversifikasi energi kedua negara.Berdasarkan data 2024, Amerika Serikat hanya menyumbang sekitar 9% dari total impor minyak India, dengan rata-rata 158.000 barel per hari.Angka ini jauh di bawah pasokan dari Rusia yang mencapai 1,754 juta barel per hari dan Irak sebesar 1,005 juta barel per hari.Situasi semakin kompleks setelah India kembali membeli minyak Iran setelah jeda tujuh tahun, menandakan sulitnya mengubah peta impor energi negara tersebut.Tingkat kesulitan itu terlihat awal bulan ini, ketika AS terpaksa memberikan keringanan sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia untuk meredam tekanan pasokan akibat perang yang dimulai pada 28 Februari.Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, India merasakan dampak signifikan, sehingga Washington perlu menjaga hubungan bilateral yang sebelumnya telah tertekan akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump serta kebijakan tambahan terkait pembelian minyak Rusia oleh India.Menariknya, India justru meningkatkan pembelian minyak dari Rusia dan Iran dengan restu AS.Washington bahkan memperpanjang keringanan sanksi untuk minyak Rusia, meski sebelumnya memberi sinyal sebaliknya.Salah satu alasan AS tidak langsung meningkatkan pasokannya ke India adalah harga.Sebagian besar impor energi India berasal dari Timur Tengah karena faktor geografis yang lebih dekat, sehingga biaya transportasi lebih rendah.Selain itu, sejak 2022, minyak Rusia semakin diminati karena dijual dengan diskon besar akibat sanksi Barat.Sebelumnya, India sempat berkomitmen untuk membeli produk AS senilai sekitar 500 miliar dolar AS, termasuk energi, teknologi informasi, dan batu bara.Namun, komitmen tersebut tampaknya belum terealisasi sepenuhnya, tercermin dari upaya diplomatik yang masih terus dilakukan Washington untuk mendorong peningkatan ekspor energinya ke India. (DK)