IEA: Krisis Hormuz bisa ubah peta energi global
Rabu, 22 April 2026

TEHERAN - Perang di Timur Tengah serta krisis di Selat Hormuz berpotensi mengubah peta energi global, karena jalur minyak paling penting di dunia itu tidak lagi dianggap sebagai rute yang andal untuk pasokan minyak dan gas, menurut Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol.Birol menyampaikan kepada harian Turki Dünya bahwa perang Iran dan penutupan de facto Selat Hormuz telah menunjukkan kepada dunia bahwa jalur tersebut telah kehilangan statusnya sebagai rute ekspor energi yang dapat diandalkan.Seperti dikutip OILPRICE, kondisi ini, menurutnya, dapat mendorong pergeseran besar dalam arus energi global.“Bahkan jika Selat Hormuz dibuka besok, kembali ke kondisi sebelum perang akan membutuhkan waktu yang signifikan, proses pemulihan, dan investasi dalam jumlah besar,” kata Birol.IEA memperkirakan pemulihan produksi ke tingkat sebelum perang dapat memakan waktu hingga dua tahun.Namun, waktu pemulihan akan berbeda-beda di setiap negara.Birol menjelaskan kepada surat kabar Swiss Neue Zürcher Zeitung bahwa Irak, misalnya, akan membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan Arab Saudi untuk mengembalikan produksi ke level sebelumnya.“Ini akan menjadi periode yang sangat sulit bagi negara-negara pengimpor energi. Tidak ada solusi ajaib yang dapat langsung menormalkan pasar,” ujar Birol dalam pernyataannya kepada Dünya.Ia juga menambahkan bahwa era ketergantungan ekonomi global pada satu jalur pelayaran utama sudah mulai berakhir.“Sekalipun semuanya kembali normal besok, harga tinggi dan volatilitas pasar akan tetap berlangsung lama,” katanya.Dalam laporan bulanannya pekan lalu, IEA memperkirakan pasokan minyak global anjlok sebesar 10,1 juta barel per hari menjadi 97 juta barel per hari pada Maret, akibat serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan pembatasan pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz. (DK)