CEO Ford: Tesla kurang 'update' produk, pesaing nyata adalah BYD
Rabu, 22 April 2026

JAKARTA - CEO Jim Farley menyatakan bahwa Tesla tidak lagi menjadi fokus utama persaingan Ford, meskipun masih menunjukkan kinerja yang baik.
Ia menilai Tesla belum menghadirkan pembaruan (update) produk yang signifikan, dan kini Ford mengalihkan perhatian untuk mengejar pesaing utamanya: pabrikan asal China, BYD.
Mengutip finance.yahoo.com (21/04/26) pernyataan tersebut disampaikan Farley dalam podcast Rapid Response bersama Bob Safian.
“Meskipun Tesla berkinerja baik, mereka tidak benar-benar memiliki kendaraan yang diperbarui,” ujarnya.
Alih-alih menguji kendaraan listrik buatan Amerika, Farley mengungkapkan bahwa ia menghabiskan enam bulan pada 2024 mengendarai Xiaomi SU7, mobil listrik pertama dari Xiaomi. Ia bahkan mengaku enggan melepaskan kendaraan tersebut.
Farley juga memuji BYD sebagai pemain terbaik di industri, khususnya dalam hal efisiensi biaya, rantai pasok, manufaktur, dan penguasaan teknologi. Menurutnya, Ford perlu lebih memperhatikan kompetitor global, terutama dari China, dibanding hanya berfokus pada produsen tradisional seperti General Motors dan Toyota Motor Corporation.
Untuk meningkatkan daya saing, Ford berupaya meniru efisiensi biaya BYD, terutama guna memenuhi kebutuhan konsumen Amerika Serikat pada “siklus berikutnya” yang menginginkan kendaraan di kisaran harga US$30.000, bukan US$50.000.
Farley juga mengungkapkan bahwa Ford mencatat kerugian sekitar US$19,5 miliar pada Desember lalu saat merombak strategi kendaraan listrik (EV), yang sebagian dipicu oleh melemahnya permintaan setelah kebijakan Presiden Donald Trump mengakhiri kredit EV.
Saat ini, Ford mengalihkan fokus ke kendaraan hibrida dan extended-range electric vehicles (EREV). Model F-150 Lightning—yang saat ini dibanderol mulai US$54.780—direncanakan akan disesuaikan menjadi EREV, sementara perusahaan tetap menargetkan peluncuran pikap listrik seharga US$30.000 pada 2027.
Di pasar, kendaraan termurah Ford saat ini adalah pikap hibrida Maverick XL dengan harga sekitar US$28.000. Sebagai perbandingan, sedan termurah Tesla, Model 3, dibanderol sekitar US$37.000. Keduanya masih jauh lebih mahal dibandingkan BYD Seagull yang dijual sekitar US$9.500 di China, meskipun lebih tinggi di pasar internasional.
Sementara itu, Tesla telah melakukan sejumlah pembaruan desain untuk menghadapi persaingan dari produsen China.
Versi terbaru Model Y menghadirkan perubahan eksterior dan interior, sementara Model 3 versi 2023 mendapat peningkatan seperti kursi berventilasi dan pencahayaan ambient. Namun, sejumlah pengamat menilai pembaruan tersebut masih bersifat inkremental dibandingkan inovasi agresif dari pabrikan China.
Pertumbuhan industri kendaraan listrik China sendiri didorong oleh dukungan pemerintah, mulai dari subsidi bagi produsen dan konsumen hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya. Total dukungan untuk sektor ini diperkirakan mencapai sekitar US$231 miliar.
Didirikan pada 1995 sebagai produsen baterai, BYD masuk ke industri otomotif pada 2003 melalui akuisisi Xi’an Qinchuan Automobile. Pada 2022, perusahaan ini menjadi pabrikan besar pertama yang menghentikan produksi mobil berbahan bakar bensin murni dan berfokus sepenuhnya pada kendaraan listrik dan hibrida.
Pada 2025, BYD bahkan melampaui Tesla dari sisi pendapatan dan volume produksi kendaraan listrik global, meskipun valuasi Tesla masih lebih tinggi. CEO Tesla, Elon Musk, juga sempat menyebut pabrikan China sebagai “perusahaan mobil paling kompetitif di dunia.”
Kendaraan listrik China tidak dipasarkan di Amerika Serikat akibat tarif impor sebesar 100% yang diberlakukan sejak era Joe Biden dan dipertahankan oleh Trump. Meski demikian, ekspansi global terus berlangsung.
Di Eropa, meskipun dikenakan tarif hingga 38,1% pada 2024, penjualan BYD meningkat hampir tiga kali lipat. Laporan Wall Street Journal mencatat registrasi kendaraan baru BYD mencapai 18.242 unit pada Januari, naik dari 6.884 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. (SF)