Fitch ungkap potensi kredit sindikasi syariah, lampaui sukuk dolar AS

Rabu, 22 April 2026

image

JAKARTA – Fitch Ratings mencatat nilai pembiayaan sindikasi syariah melampaui penerbitan sukuk dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di awal 2026, seiring melambatnya emisi sukuk global dari sejumlah pasar utama di tengah konflik di Timur Tengah.

Fitch dalam laporan terbarunya menyebut, skema sindikasi, termasuk kredit berbasis syariah, kian dominan dalam bauran pendanaan. Alasannya, skema pendanaan ini dinilai lebih privat, fleksibel, serta mendapat dukungan likuiditas perbankan dari negara kawasan Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC).

Nilai sindikasi syariah di pasar inti yang termasuk GCC, meliputi Mesir, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan bahkan mencapai US$23 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini melonjak 294% secara tahunan, meskipun turun 18% secara kuartalan.

Namun Fitch menegaskan realisasi itu melampaui penerbitan sukuk dolar AS, yang tercatat turun 9% secara kuartalan namun meningkat 20% menjadi US$20 miliar di kuartal pertama.

Kepala Global Keuangan Syariah Fitch, Bashar Al Natoor, menyampaikan prospek jangka panjang pembiayaan sindikasi syariah. Mulai dari sentimen pasar pascakonflik Timur Tengah, hingga akses dan kebutuhan pendaan.

Namun di tengah sentimen itu, Bashar menilai kredit sindikasi syariah tetap menjadi saluran yang layak di tengah tekanan pasar, didukung 65% bank syariah dan institusi multilateral global yang saat ini memegang level investment grade dari Fitch.

“Sementara bank syariah di kawasan GCC secara khusus memasuki periode konflik dengan pangsa pasar domestik yang besar, likuiditas memadai, dan bantalan modal yang kuat,” ungkap Bashar, dalam laporan yang disampaikan Selasa (21/4) kemarin.

Fitch mencatat outstanding pembiayaan sindikasi syariah di kuartal pertama telah mencapai US$219 miliar, meningkat 26% secara tahunan. Sebagian besar berasal dari Arab Saudi, Uni Emirates Arab, dan Mesir, dengan tenor mulai dari 1-40 tahun. (KR)