VinVast andalkan Green SM kejar target penjualan global 300.000 unit

Kamis, 23 April 2026

image

HANOI - Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, menargetkan lonjakan penjualan internasional hingga sekitar lima kali lipat pada tahun ini.

Seperti dikutip The Business Times, Perusahaan juga mengandalkan anak usahanya di sektor taksi dan layanan transportasi daring, Green SM, sebagai pendorong utama ekspansi ke pasar global.

Ketua sekaligus pendiri Vingroup, Pham Nhat Vuong, dalam rapat umum pemegang saham di Hanoi pada Rabu (22/4), menyampaikan bahwa VinFast menargetkan penjualan global sekitar 300.000 unit kendaraan pada 2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 200.000 unit diharapkan berasal dari pasar domestik Vietnam.

Artinya, sekitar 100.000 unit ditargetkan terjual di pasar internasional, lonjakan signifikan dibandingkan pengiriman luar negeri yang hanya mencapai 21.820 unit pada 2025.

Ekspansi global ini menjadi faktor penting dalam upaya VinFast mencapai profitabilitas.

Perusahaan memperkirakan akan mencapai titik impas pada tingkat EBITDA pada 2027, sementara bisnis di Vietnam diproyeksikan mulai mencetak keuntungan sejak awal tahun ini.

Vuong menambahkan bahwa peran Green SM sangat krusial dalam mendorong posisi VinFast.

“Berkat Green SM, VinFast telah menjadi pemain nomor satu di Vietnam dan diperkirakan segera memimpin di pasar lain,” ujarnya.

Meski demikian, pertumbuhan VinFast masih sangat bergantung pada pasar domestik, yang menyumbang sekitar 89% dari total pengiriman tahun lalu.

Secara global, perusahaan mengirimkan 196.919 unit kendaraan listrik pada 2025, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 97.399 unit pada tahun sebelumnya.

Dalam setahun terakhir, ekspansi internasional VinFast difokuskan pada India, Indonesia, dan Filipina, dengan dukungan fasilitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2025 di Tamil Nadu dan Subang, serta pabrik baru di Ha Tinh, Vietnam.

Dari sisi keuangan, VinFast mencatat pendapatan sebesar US$3,6 miliar pada 2025, naik 105% dibanding tahun sebelumnya.

Namun, perusahaan masih membukukan kerugian bersih sebesar US$3,9 miliar, sehingga total kerugian kumulatif mencapai US$14,5 miliar, mencerminkan besarnya kebutuhan investasi dalam industri kendaraan listrik dan ekspansi global.

“Kami telah menyelesaikan penggalangan modal untuk VinFast, tidak ada hambatan,” kata Vuong.

Ia menegaskan bahwa perusahaan telah memiliki rencana pendanaan yang jelas untuk memastikan kecukupan modal dalam mendukung operasional dan ekspansi ke depan. (DK)