Perempuan 38 tahun betting alihkan dana pensiun ke kripto
Kamis, 23 April 2026

JAKARTA - Lauren Witzke, 38, mengubah strategi dana pensiunnya dengan berinvestasi di aset kripto setelah beralih dari karyawan menjadi pengusaha. Mantan tenaga pemasaran farmasi itu sebelumnya mengandalkan program pensiun 401(k), namun kini memilih pendekatan berbeda setelah mendirikan perusahaan sendiri dan membangun keluarga.
"Saya beralih dari seorang karyawan menjadi kontraktor independen dan menjalankan bisnis saya sendiri," kata Witzke, seperti dikutip reuters.
"Memiliki rencana untuk masa depan sekarang terlihat sedikit berbeda dibandingkan dengan seseorang yang bekerja dari jam 9 pagi sampai 5 sore untuk sebuah perusahaan."
Warga Florida itu memindahkan dana dari 401(k) lama dan menambah sekitar US$25.000 ke akun berbasis kripto yang dikelola BlockTrust IRA. Ia mengandalkan manajemen profesional karena keterbatasan waktu.
"Saya bekerja, saya punya bayi, saya butuh tenaga profesional untuk melakukan ini," ujarnya.
Dalam lima minggu pertama, nilai akunnya sempat mencatat keuntungan sekitar US$7.000. Meski memantau secara berkala, Witzke menegaskan investasinya bersifat jangka panjang hingga masa pensiun.
"Saya bisa menyimpan uang tunai di bank dengan penghasilan kecil atau mencoba berpartisipasi dalam apa yang saya yakini sebagai masa depan," katanya.
Disisi lain, minat terhadap kripto dalam portofolio pensiun meningkat. Survei NerdWallet 2025 menunjukkan sekitar 10% warga dewasa AS yang memiliki dana pensiun telah memasukkan kripto. Angkanya lebih tinggi pada generasi muda: 19% milenial dan 14% Gen Z, dibandingkan 6% Gen X dan 5% baby boomers.
Dorongan tambahan datang dari rencana regulasi yang membuka peluang aset alternatif seperti kripto masuk ke skema 401(k). Di sisi lain, institusi besar mulai masuk ke pasar ritel, termasuk peluncuran produk ETF bitcoin oleh Morgan Stanley dan rencana serupa dari Goldman Sachs.
Keputusan investasi kripto kerap dipengaruhi fenomena fear of missing out (FOMO). Sekitar 44% Gen Z dan 49% milenial mengaku terdorong faktor tersebut, menurut CFA Institute.
Witzke mengakui hal serupa. “Aku merasa seperti ketinggalan sesuatu.” Namun, FOMO bukan strategi investasi. Diversifikasi tetap menjadi pendekatan utama. Morgan Stanley merekomendasikan alokasi kripto sekitar 2% hingga 4% untuk portofolio agresif, dan nol untuk profil konservatif.
Volatilitas juga menjadi tantangan utama. Harga kripto bisa bergerak ekstrem dalam waktu singkat. “Dengan kripto, ini adalah pasar yang tidak pernah tidur,” kata CEO BlockTrust, Jonathan Rose. “Tidak ada bel pembukaan. Tidak ada bel penutupan, dan sangat fluktuatif.”
Selain itu, likuiditas lebih rendah dan perlindungan investor terbatas dibandingkan aset tradisional. Meski berisiko, kripto dinilai relevan bagi investor dengan horizon panjang. “Bagi anak muda, saya tidak keberatan dengan kripto,” kata perencana keuangan Joon Um. “Ini waktu yang tepat untuk mengambil risiko, selama Anda memahaminya.”
Witzke sendiri menekankan pentingnya memilih jalur investasi yang tepat setelah mempelajari berbagai risiko, termasuk penipuan dan peretasan. “Ada begitu banyak jalur berbeda untuk kripto,” pikirnya. “Dan jika Anda memilih yang salah, Anda akan kehilangan segalanya.”
Ia memilih platform yang menawarkan pengelolaan aktif berbasis data dan kecerdasan buatan. “Lucunya, jika Anda menanyakan hal itu kepada saya sekitar dua tahun lalu, orang tua saya pasti akan berkata, ‘Kamu gila. Kripto bukanlah uang sungguhan.’ Sekarang ayah saya sudah mulai menerimanya,” kata Witzke.(DH)