Rupiah tembus Rp17.312 per dolar AS, terpuruk di Asia

Kamis, 23 April 2026

image

JAKARTA – Nilai tukar rupiah merosot 0,77% ke level Rp17.312 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 9.36 WIB Kamis (23/4), melanjutkan pelemahan 0,22% pada Rabu.

Penurunan ini membawa rupiah ke level terendah baru sepanjang masa, serta menjadi mata uang dengan performa terburuk, di antara enam negara emerging market Asia lainnya.

Dari kawasan ini, sejumlah mata uang kompak melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar yuan China melemah tipis 0,06%, won Korea melemah 0,22% dan ringgit Malaysia turun 0,30%.

Di tengah pelemahan mata uang emerging market Asia, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi pengukur dolar terhadap mata uang utama dunia, naik 0,11% ke US$98,70. Hal ini menambah kenaikan DXY sejak awal bulan menjadi 2,4%.

“Dolar AS mencatat reli kenaikan karena dinilai sebagai aset safe-haven,” kata Ahli Strategi di CIBC Capital Market, Noah Buffam, seperti dikutip Bloomberg. Ekspektasi ini, imbuhnya, dinilai seiring dengan harapan pertumbuhan global yang cukup rendah.

Beberapa bankir Wall Street seperti JP Morgan Chase & Co dan Goldman Sachs kini disebut mempertimbangkan kembali pandangan mereka, terhadap dolar AS. Namun dengan risiko sentimen global yang belum stabil, keduanya belum mengubah proyeksi mereka terhadap mata uang terbesar di dunia ini.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) telah menyatakan sikapnya di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Intervensi BI di pasar valas dan upaya tarik modal asing

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengaku saat ini bank sentral fokus pada sejumlah upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, melalui strategi suku bunga dan instrumen operasi moneter.

“Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan, untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah, serta menjaga inflasi 2026-2027 dalam sasaran,” ungkap Perry, setelah mengumumkan keputusan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate di 4,75% pada Rabu (22/4) kemarin.

Pada kesempatan yang sama, BI mengaku likuiditas bank sentral masih mencukupi untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil, termasuk dari cadangan devisa US$148,2 miliar.

“Masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah ini,” jelas Perry.

Di samping itu, Perry mengatakan BI telah konsisten mengintervensi pasar valuta asing (valas), baik di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot domestik, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Secara bersamaan, imbuh Perry, BI juga telah meningkatkan struktur bunga instrumen moneter, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

“Dalam sebulan terakhir memang telah kami naikkan, dan karenanya tadi kami sampaikan, untuk menarik aliran masuk portofolio asing dalam SRBI maupun SBN,” jelasnya. (KR)