Dokumen IPO: SpaceX akui pusat data AI antariksa belum terbukti

Kamis, 23 April 2026

image

NEW YORK – SpaceX telah memperingatkan investor bahwa ambisinya untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) berbasis luar angkasa, serta permukiman manusia di bulan dan Mars, bergantung pada teknologi yang belum terbukti dan mungkin tidak akan menguntungkan secara komersial (commercially viable).

Mengutip reuters.com (22/04/26), peringatan yang belum pernah dilaporkan sebelumnya ini tertuang dalam dokumen pengajuan pra-IPO (S-1) seiring persiapan pabrikan roket tersebut untuk melakukan Penawaran Saham Perdana (IPO) yang bisa menjadi yang terbesar dalam sejarah. Perusahaan menargetkan pencatatan saham dalam beberapa bulan mendatang dengan valuasi sekitar US$1,75 triliun dan raihan dana sebesar US$75 miliar.

Penilaian bisnis dalam pengajuan S-1 yang disyaratkan oleh undang-undang sekuritas AS untuk menginformasikan potensi jebakan kepada investor sekaligus melindungi perusahaan dari kewajiban hukum di masa depan menyajikan pandangan yang jauh lebih berhati-hati dibandingkan visi publik yang digaungkan oleh miliarder sekaligus CEO Elon Musk dalam beberapa minggu terakhir.

"Inisiatif kami untuk mengembangkan komputasi AI orbital dan industrialisasi di orbit, bulan, dan antarplanet berada pada tahap awal, melibatkan kompleksitas teknis yang signifikan dan teknologi yang belum terbukti, dan mungkin tidak mencapai kelayakan komersial," tulis SpaceX dalam kutipan dokumen S-1 yang dilihat oleh Reuters (laporan jurnalis Echo Wang).

Dokumen tersebut juga secara spesifik menyoroti bahwa setiap pusat data orbital AI masa depan akan beroperasi "di lingkungan luar angkasa yang keras dan tidak dapat diprediksi, mengeksposnya pada berbagai risiko terkait luar angkasa yang luas dan unik yang dapat menyebabkannya tidak berfungsi atau gagal." Sikap pesimistis di atas kertas ini bertolak belakang dengan retorika Musk di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada bulan Januari lalu.

Saat itu, Musk menyebut pembangunan pusat data AI di luar angkasa sebagai hal yang "tidak perlu dipikirkan lagi" (a no-brainer) dan meyakini bahwa itu akan menjadi tempat termurah untuk menempatkan AI dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Bahkan pada bulan Februari, setelah mengumumkan merger antara SpaceX dan firma media sosial serta kecerdasan buatannya, xAI, Musk menyatakan bahwa "AI berbasis luar angkasa jelas merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan skala (scale)." SpaceX tidak segera menanggapi permintaan komentar lebih lanjut terkait perbedaan ini.

Selain masalah AI dan permukiman antarplanet, SpaceX turut menyoroti ketergantungan yang sangat besar pada Starship, roket generasi berikutnya yang dapat digunakan kembali sepenuhnya, yang sejauh ini telah mengalami beberapa penundaan dan kegagalan pengujian.

"Setiap kegagalan atau penundaan dalam pengembangan Starship pada skala besar atau dalam mencapai irama peluncuran, kemampuan penggunaan kembali, dan kemampuan yang diisyaratkan di dalamnya akan menunda atau membatasi kemampuan kami untuk mengeksekusi strategi pertumbuhan kami," urai dokumen pengajuan tersebut.

Sebagai pembanding, Starship dirancang untuk mengangkat muatan yang jauh lebih besar daripada roket andalan SpaceX saat ini, Falcon 9, dengan tujuan akhir untuk mengurangi biaya peluncuran secara dramatis bagi satelit Starlink, pusat data berbasis luar angkasa, hingga misi membawa manusia ke bulan. (SF)