China kuasai 80% supply chain drone, Barat bisa kelimpungan?
Sabtu, 29 November 2025

LONDON - Ketergantungan Barat pada teknologi dan material asal China kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Mulai dari drone hingga mineral tanah jarang (rare earth), dominasi China menciptakan kerentanan serius bagi industri pertahanan AS dan sekutunya.
Seperti diberitakan reuters.com (28/11), Hugo Crawford, mantan Kapten Angkatan Darat Inggris yang kini menjadi Head of Growth for Europe perusahaan drone Amerika, Neros, menggambarkan bagaimana Barat kini meneliti secara detail asal usul komponen setiap drone.
“Mereka membongkar setiap drone dan kemudian memperbesar chip dan melihat dari mana semuanya berasal,” ujarnya, merujuk pada proses verifikasi “blue list” milik Defense Innovation Unit AS untuk memastikan perangkat bebas dari komponen signifikan asal China, Rusia, atau Korea Utara.
Hingga 2024, China diperkirakan menguasai 80% pasar drone global, baik dalam produksi unit jadi maupun komponen. Meski sejumlah negara seperti Inggris, Ukraina, Polandia, dan Taiwan mencoba membangun alternatif, hasilnya masih terbatas. Upaya mempercepat rearmament (membangun ulang sistem pertahanan) semakin rumit karena ketergantungan yang melebar hingga ke bahan baku kritis.
Awal tahun 2025, boikot ekspor mineral tanah jarang oleh China menyusul tarif dagang pemerintahan Trump membuat industri pertahanan dan penerbangan Barat kelimpungan mencari pasokan.
Uni Eropa memperingatkan bahwa benua itu harus meningkatkan kemampuan sendiri. Wakil Presiden Eksekutif Komisaris Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri, Stephane Sejourne, bahkan menyebut pendekatan China sebagai pemerasan yang sengaja menjadikan Eropa sebagai sasaran, meski Beijing sempat berjanji menangguhkan pembatasan ekspor.
Pengusaha teknologi Ukraina, Eveline Buchatskiy, menggambarkan kesulitan industri pertahanan menemukan komponen non-China, bahkan untuk elemen dasar seperti lensa.
Situasi ini mencerminkan bagaimana Beijing selama bertahun-tahun menyubsidi industri strategis untuk menekan munculnya pesaing global.
Di tengah perang Ukraina, China menjaga aliran komponen ke kedua pihak, memakai momentum perang untuk menguji dan mengembangkan material dan komponen senjata.
Para analis memperingatkan bahwa jika terjadi perang besar, China bisa dengan cepat memutus pasokan tersebut dan melemahkan musuhnya.
Ketegangan geopolitik makin meningkat. AS khawatir soal kesiapan menghadapi kemungkinan rencana China menginvasi Taiwan sebelum 2027, sementara pemilu Taiwan dan AS tahun 2028 menambah lapisan ketidakpastian baru. Jepang juga mulai menyatakan kesiapan bertindak lebih awal jika terjadi perang Taiwan, bahkan tanpa keikutsertaan AS.
Di Eropa, kekhawatiran memuncak bahwa kesepakatan damai di Ukraina yang menguntungkan Rusia bisa membuka jalan bagi serangan Kremlin ke negara-negara Baltik dalam waktu singkat.
Negara-negara Eropa sadar kemampuan militernya terbatas tanpa dukungan AS, dan persaingan pasokan dengan ancaman China bisa memperburuk situasi.
Jika China memutus pasokan material kritis atau jika Taiwan yang memproduksi hingga 90% chip mikro tercanggih dunia diguncang konflik, dampaknya terhadap rantai pasok Barat akan sangat besar. Meski diversifikasi sudah mulai berjalan, banyak pengamat menilai Barat tidak akan sepenuhnya siap bila konflik besar pecah dalam dekade mendatang.(DH)