Harga emas tembus dibawah US$4.700, dolar menguat

Kamis, 23 April 2026

image

JAKARTA - Harga emas kembali melemah dalam perdagangan Asia pada Kamis (23/4), melanjutkan tren penurunan dan sempat menembus batas bawah kisaran pergerakan terbarunya.Seperti dikutip Investing, tekanan ini dipicu oleh ketidakpastian terkait konflik Iran serta arah suku bunga Amerika Serikat yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan permintaan aset safe haven.Emas spot turun 0,6% ke level US$4.712,50 per ons, sementara kontrak berjangka emas melemah 0,5% menjadi US$4.728,69 per ons pada pukul 02.30 ET (06.30 GMT).Harga bahkan sempat menyentuh US$4.694,23 per ons, keluar dari rentang US$4.700–US$4.900 yang bertahan dalam dua pekan terakhir.Pergerakan emas tertahan di tengah ketidakjelasan kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran, setelah Presiden Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.Namun, peluang dialog baru masih tipis setelah rencana pembicaraan pekan ini gagal terlaksana.Iran menegaskan bahwa AS harus mencabut blokade terlebih dahulu sebelum negosiasi dimulai, sementara Washington menuntut pembukaan penuh Selat Hormuz.Hingga kini, Iran masih memblokir jalur tersebut, sementara AS mempertahankan kehadiran militernya dan mengawasi kapal-kapal Iran di kawasan Asia, membuat situasi menemui jalan buntu.Ketegangan ini turut mendorong lonjakan harga minyak kembali di atas US$100 per barel akibat terbatasnya pasokan melalui Hormuz.Di sisi lain, penguatan dolar AS, yang berada di dekat level tertinggi dalam satu setengah pekan, juga menekan pasar logam.Logam mulia lainnya ikut tertekan. Perak spot turun 2% ke US$76,1295 per ons, sedangkan platinum spot melemah 1,4% menjadi US$2.050,65 per ons.Dolar menguat setelah kandidat Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan tidak ada komitmen untuk memangkas suku bunga seperti yang diharapkan pemerintah.Ia dipandang sebagai sosok dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang sebelumnya sempat memicu tekanan besar pada harga emas sejak pencalonannya diumumkan.Selain itu, jajak pendapat Reuters menunjukkan pelaku pasar memperkirakan The Fed tidak akan memangkas suku bunga setidaknya dalam enam bulan ke depan, di tengah ketidakpastian konflik Iran.Dampak inflasi dari kenaikan harga energi juga meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral global akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, sebagaimana telah disinyalkan oleh European Central Bank dan Bank of England. (DK)