Deutsche Telekom jajaki mega merger US$300 miliar dengan T-Mobilie

Jumat, 24 April 2026

image

JAKARTA - Deutsche Telekom menjajaki rencana merger dengan T-Mobile US untuk membentuk perusahaan telekomunikasi transatlantik bernilai hampir US$300 miliar, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Seperti dikutip Reuters, kabar negosiasi ini menekan saham Deutsche Telekom sekitar 5%, sementara saham T-Mobile turun sekitar 3,5%. Pembicaraan masih berada pada tahap awal meski telah lama dibahas.

Jika terealisasi, entitas gabungan akan menjadi operator telekomunikasi terbesar di dunia dengan lebih dari 200 juta pelanggan seluler. Skala tersebut dinilai dapat memperkuat kapasitas pendanaan dan membuka peluang akuisisi lanjutan.

"Daya tarik sebenarnya adalah mendapatkan manfaat dari pengendalian sambil tetap mempertahankan kelincahan dan potensi peningkatan nilai T-Mobile sebagai bisnis yang berdiri sendiri," kata analis PP Foresight Paolo Pescatore. Ia menilai T-Mobile telah menjadi "mesin" bagi kinerja Deutsche Telekom.

Deutsche Telekom saat ini memegang 53% saham T-Mobile. Kepemilikan ini terus diperkuat sejak 2020. CEO Timotheus Hoettges juga menjabat sebagai ketua dewan T-Mobile. Rencana merger berpotensi menghadapi pengawasan ketat regulator di Amerika Serikat dan Jerman. Transaksi ini juga muncul di tengah ketegangan hubungan ekonomi kedua negara, termasuk isu tarif dan konflik Iran.

Pemerintah Jerman sebagai pemegang saham terbesar Deutsche Telekom, dengan sekitar 28% saham melalui negara dan bank KfW, berperan penting dalam persetujuan transaksi. "Penggabungan penuh akan mengurangi kepemilikan saham menjadi 17%-18% pada valuasi saat ini, di bawah ambang batas 25% yang sebelumnya telah diisyaratkan oleh otoritas Jerman sebagai ambang batas untuk 'bisnis strategis'," kata analis BNP Paribas, Sam McHugh.

Penasihat kebijakan New Street Research, Blair Levin, menilai proses akan menghadapi pengujian antitrust dan keamanan nasional, namun kecil kemungkinan diblokir sepenuhnya. "Intinya adalah, meskipun akan ada investigasi antimonopoli, keamanan nasional, dan regulasi, investigasi tersebut kemungkinan besar tidak akan menemukan masalah yang menyebabkan pemerintah AS memblokir kesepakatan tersebut," ujarnya.

William Kovacic dari George Washington University menambahkan bahwa kepemilikan mayoritas Deutsche Telekom di T-Mobile dapat meredakan kekhawatiran antitrust, meski regulator tetap dapat meminta konsesi tambahan.

Struktur yang dibahas mencakup pembentukan perusahaan induk baru yang akan melakukan penawaran saham terhadap kedua entitas dan mencatatkan saham di AS dan Eropa. Jika terealisasi, transaksi ini akan melampaui merger Vodafone-Mannesmann merger senilai US$202,7 miliar, yang saat ini menjadi rekor merger publik terbesar.

Analis Deutsche Bank menilai entitas gabungan akan lebih mudah mengakses pasar modal global untuk ekspansi lintas kawasan. Langkah ini juga mencerminkan upaya perusahaan telekomunikasi Eropa mencari pertumbuhan baru di tengah pasar yang terfragmentasi dan kompetitif, serta beban utang yang tinggi. (DH)