Selat Hormuz tertutup, Asia terjepit krisis energi
Jumat, 24 April 2026

JAKARTA - Tekanan energi di Asia meningkat seiring menipisnya pasokan minyak yang selama ini menopang kebutuhan kawasan. Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari memicu lonjakan pembelian minyak oleh negara-negara Asia, terutama dari Rusia dan Iran yang berada di bawah sanksi.
Seperti dikutip Oilprice. pasokan minyak laut yang sempat melimpah kini mulai berkurang. Kondisi ini memperbesar risiko guncangan baru di pasar energi. Harga minyak global sempat menembus US$100 per barel, meski tertahan oleh harapan gencatan senjata.
Negara-negara Asia dengan kemampuan fiskal terbatas mulai menghadapi tekanan lebih awal. Sejumlah negara Asia Tenggara menerapkan penghematan energi, sementara Filipina menetapkan status darurat energi nasional.
Sebaliknya, China dan Jepang berada dalam posisi lebih kuat. China telah menimbun minyak lebih dari satu tahun terakhir, memanfaatkan harga diskon dari Rusia dan Iran. Jepang mengandalkan cadangan strategis besar dan membuka opsi berbagi pasokan untuk menahan dampak regional.
Sejumlah importir juga memanfaatkan penyimpanan terapung dari tanker yang membawa minyak bersanksi. Namun, pasokan ini terbatas. Produksi Timur Tengah turun sekitar 11 juta barel per hari akibat gangguan ekspor, dengan lalu lintas tanker masih terhambat.
Alternatif dari Amerika Serikat mulai dilirik oleh Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Namun, kapasitas produksi AS dinilai belum mampu menutup kekurangan pasokan global, selain perbedaan spesifikasi minyak dengan kebutuhan kilang di Asia.
Tekanan diperkirakan meningkat setelah AS tidak memperpanjang pengecualian sanksi untuk minyak Iran. India bersiap menghadapi lonjakan harga bahan bakar, meski memiliki kesepakatan pasokan dengan Iran yang terganggu oleh serangan terhadap tanker.
Korea Selatan telah menyiapkan paket stimulus lebih dari US$17 miliar untuk meredam dampak ekonomi. Sementara China mendorong normalisasi jalur pelayaran di Hormuz, namun belum menunjukkan hasil.
Stok minyak global terus menurun dan mendekati rekor terendah, menurut Goldman Sachs. Kondisi ini berpotensi memperpanjang tekanan harga energi dan berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi global.(DH)