Sucre Venezuela mencekam setelah pemboman AS dekat pesisir

Sabtu, 29 November 2025

image

JAKARTA – Peningkatan serangan udara Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba memicu pengetatan pengawasan di negara bagian Sucre, Venezuela, sebuah wilayah pesisir di timur laut negara itu, berbatasan langsung dengan laut Karibia dan berada dekat pulau Trinidad dan Tobago.

Posisi strategis Sucre membuatnya sering dilintasi rute laut yang dituduh AS sebagai jalur penyelundupan narkoba.

Dikutip Reuters (28/11), sejumlah warga dan seorang pengunjung mengatakan aparat keamanan serta pendukung partai berkuasa kini melakukan patroli intensif, terutama di kawasan miskin sekitar Guiria, kota pelabuhan yang menjadi pintu keluar menuju Trinidad dan Tobago. Langkah itu memicu ketakutan di tengah masyarakat.

Sucre tercatat sebagai lokasi sebagian dari lebih 80 korban tewas dalam kampanye serangan udara AS di perairan Venezuela dan Pasifik. Pemerintahan Trump mengklaim operasi tersebut menargetkan kartel narkoba yang menurut Washington dipimpin Presiden Nicolas Maduro. Caracas membantah keras dan menuduh AS ingin mendorong perubahan rezim serta menguasai sumber daya alam Venezuela.

Dua kerabat korban mengatakan polisi dan badan intelijen SEBIN mendatangi rumah mereka setelah pemboman. Aparat menggeledah properti dan melarang keluarga mengunggah informasi kematian di media sosial. Mereka mengaku tidak mendapat penjelasan resmi dan belum melihat adanya investigasi.

Reuters melaporkan peningkatan aktivitas keamanan sejak pertengahan September. Warga Güiria menyebut hadirnya aparat dari berbagai lembaga, SEBIN, DGCIM, militer, polisi nasional, serta kelompok sipil pro-pemerintah colectivos. Patroli dilakukan siang dan malam, sebagian oleh petugas berpakaian preman.

“Mereka melewati area yang sama berkali-kali, sepanjang waktu. Dulu tidak seintens ini, sekarang mereka ada di mana-mana,” kata seorang tokoh masyarakat.

Pengetatan keamanan meningkat setelah pengumuman latihan militer gabungan AS–Trinidad dan Tobago pada Oktober. Kondisi itu disebut memicu sejumlah penangkapan, sementara pos-pos pemeriksaan baru bermunculan tanpa kejelasan siapa yang mengoperasikannya.

Perekonomian Güiria ikut terpukul. Aktivitas perdagangan laut menuju Trinidad dan Tobago terhenti total. “Belakangan ini toko-toko agak bergerak karena pembayaran bonus pemerintah; selebihnya tidak ada uang beredar,” kata seorang pegawai toko. “Tidak ada kapal yang berangkat, semuanya praktis mati.”

Di Carúpano, kota besar lain di Sucre, warga mengatakan DGCIM mendirikan pusat komando baru. Kehadiran aparat membuat aktivitas masyarakat menyusut.

“Orang-orang tahu ada individu yang bukan dari komunitas, banyak kerahasiaan. Tidak ada yang berbicara karena tidak tahu apakah ada yang mendengarkan,” ujarnya. (DH)