Goldman Sachs: Butuh beberapa bulan pasokan minyak pulih

Jumat, 24 April 2026

image

NEW YORK - Produksi minyak Teluk yang sempat sangat terganggu akibat konflik dengan Iran diperkirakan dapat pulih dalam beberapa bulan setelah Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya, menurut Goldman Sachs pada Kamis (23/4).

Namun, bank tersebut memperingatkan bahwa pemulihan penuh bisa memakan waktu lebih lama tergantung kondisi di lapangan, mengutip dari Reuters.

Goldman Sachs memperkirakan sekitar 14,5 juta barel per hari produksi minyak mentah Teluk, atau sekitar 57% dari pasokan sebelum konflik, terhenti pada April. Penghentian ini sebagian besar disebabkan oleh langkah pencegahan dan pengelolaan stok, bukan kerusakan fisik pada ladang minyak.

Selat Hormuz sendiri menangani sekitar seperlima pasokan minyak global dalam kondisi normal, sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak besar pada pasar energi dunia.

Dalam catatan risetnya, Goldman Sachs menyebut bahwa jika selat kembali aman dan tidak ada serangan baru terhadap infrastruktur energi, produksi dapat pulih relatif cepat.

Hal ini didukung oleh kapasitas cadangan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Namun, pemulihan tetap dibatasi oleh faktor logistik dan kondisi sumur minyak.

Ketersediaan tanker di Teluk dilaporkan turun sekitar 50%, yang dapat memperlambat distribusi minyak setelah ekspor kembali dibuka.

Selain itu, penutupan sumur dalam waktu lama dapat menurunkan tekanan reservoir dan menghambat produksi kembali.

Goldman juga menyoroti bahwa negara seperti Iran dan Irak menghadapi risiko pemulihan lebih lambat akibat kondisi infrastruktur dan tekanan sanksi, sementara Arab Saudi diperkirakan mampu memulihkan produksi lebih cepat.

Secara keseluruhan, estimasi lembaga eksternal menunjukkan sekitar 70% produksi yang hilang dapat kembali dalam tiga bulan, dan hingga 88% dalam enam bulan.

Namun, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar risiko kerusakan jangka panjang pada pasokan minyak global. (DK)