Ekonomi melambat, Bank Sentral Rusia siap pangkas suku bunga

Jumat, 24 April 2026

image

JAKARTA - Rusia diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga acuan seiring melemahnya pertumbuhan ekonomi, meski ketidakpastian fiskal dan dampak konflik di Timur Tengah membatasi ruang kebijakan tersebut.

Bank sentral Rusia diprediksi menurunkan suku bunga acuan menjadi 14,5% dalam pertemuan pada Jumat (24/4), menurut seluruh ekonom yang disurvei Bloomberg.

Ini akan menjadi pemangkasan kelima secara berturut-turut sebesar 50 basis poin, seperti dikutip Bloomberg.

Perekonomian Rusia mengalami kontraksi yang memberi tekanan pada pembuat kebijakan sekaligus meragukan target pertumbuhan pemerintah tahun ini.

Kondisi keuangan yang ketat, yang dipertahankan untuk menahan inflasi akibat perang di Ukraina, turut menekan aktivitas ekonomi.

Presiden Vladimir Putin bahkan telah meminta pejabat ekonomi menjelaskan perlambatan tersebut dan mengambil langkah perbaikan.

Sejumlah data menunjukkan pelemahan yang meluas di berbagai sektor. Analis menilai kondisi ini dapat mempercepat siklus pemangkasan suku bunga lebih lanjut.

Namun, ketidakpastian belanja pemerintah dan dampak konflik di Timur Tengah membuat bank sentral bersikap hati-hati.

Pengeluaran pemerintah Rusia meningkat 17% pada kuartal pertama, yang berpotensi memperburuk tekanan inflasi.

Di sisi lain, keuntungan perusahaan lebih banyak digunakan untuk membayar utang daripada investasi, sementara permintaan melemah dan produksi menurun.

Bank sentral juga menyoroti dampak jangka panjang dari ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat mendorong inflasi global, meski dampak akhirnya terhadap harga domestik masih belum jelas.

Inflasi Rusia melambat pada April menjadi 5,77% dari 5,9% pada Maret, sementara ekspektasi inflasi juga menurun.

 Namun, bank sentral masih lebih fokus pada risiko kenaikan harga dibanding penurunan output ekonomi.

Gubernur bank sentral Elvira Nabiullina menyebut perlambatan ekonomi sebagai proses pendinginan yang masih terkendali, meski beberapa data menunjukkan perlambatan mungkin sudah terlalu dalam.

Di sisi lain, sektor ekspor Rusia diperkirakan dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga global akibat konflik Timur Tengah, meski risiko inflasi tetap menjadi perhatian utama dalam kebijakan suku bunga ke depan. (DK)