IHSG pangkas kenaikan 2 pekan, rupiah menguat ke Rp17.229/US$

Jumat, 24 April 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (24/4) hari ini di zona merah, dengan penurunan 3,38% atau 249,12 poin ke level 7.129,49.

Kenaikan ini membuat IHSG telah jatuh 8,29% dari level penutupan tertinggi bulan ini di 7.675 pada 14 April 2026, serta memangkas kenaikan indeks sekitar 8% dalam dua pekan terakhir.

Total transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp24,34 triliun, melibatkan perdagangan 47,12 miliar lembar saham.

Sebanyak 670 saham mencatat kenaikan harga, sementara hanya 83 saham yang menguat dan 62 lainnya stagnan.

Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan indeks hari ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia, dalam menghadapi lonjakan harga minyak mentah dan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, mendorong harga minyak mentah bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor sore ini.

Di sisi lain, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 3 pekan, dinilai belum cukup kuat meredam kekhawatiran pasar.

“Investor semakin meragukan akan potensi AS dan Iran kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat, di tengah konflik di sekitar Selat Hormuz,” imbuh analis Phintraco.

Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendahnya hari ini di Rp17.299/US$ pada perdagangan sesi pertama, namun berangsur menguat di sesi kedua.

Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi 3,29% terhadap dolar AS.

Kinerja mata uang lain di emerging market Asia bergerak variatif. Mata uang seperti peso Filipina melemah 0,39% terhadap dolar AS, won Korea melemah 0,24% dan rupee India 0,13%.

Sementara baht Thailand menguat 0,15% dan ringgit Malaysia stagnan terhadap dolar AS. (KR)