SpaceX hingga OpenAI siapkan IPO jumbo tanpa profit
Sabtu, 25 April 2026

JAKARTA - Tiga perusahaan teknologi besar SpaceX, OpenAI, dan Anthropic bersiap menciptakan gelombang penawaran umum perdana (IPO) terbesar dalam sejarah, dengan potensi nilai gabungan mencapai US$3 triliun.
Ketiganya masuk pasar dengan valuasi tinggi, namun belum mencatatkan laba. Kondisi ini menjadi ujian besar bagi minat investor terhadap saham teknologi berpertumbuhan tinggi.
"Begitu kita melewati tahap antusiasme di mana semua orang ingin memilikinya, akan sangat penting bagi perusahaan-perusahaan ini untuk menunjukkan dengan tepat berapa keuntungan mereka," kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise, seperti dikuti Reuters.
Valuasi ketiga perusahaan tersebut mendekati raksasa teknologi seperti Meta Platforms dan Palantir, namun tanpa rekam jejak keuntungan yang stabil.
SpaceX menargetkan valuasi sekitar US$1,75 triliun, yang berpotensi melampaui pencatatan saham Tesla dan Meta dalam sejarah IPO. Perusahaan itu mencatat kerugian hampir US$5 miliar dari pendapatan US$18,6 miliar tahun lalu.
Sementara itu, OpenAI dilaporkan mengincar valuasi sekitar US$1 triliun, sedangkan Anthropic mencapai valuasi US$380 miliar dalam putaran pendanaan terbaru.
Daya tarik utama datang dari potensi pertumbuhan. Bisnis internet satelit Starlink milik SpaceX dinilai menjadi mesin pertumbuhan utama, meski perusahaan terus menggelontorkan dana untuk pengembangan AI dan roket generasi baru. OpenAI dan Anthropic berada di pusat ledakan teknologi AI dengan produk seperti ChatGPT dan Claude.
Gelombang IPO ini juga terjadi di tengah dominasi saham teknologi dalam indeks S&P 500, yang didorong kelompok “Tujuh yang Megah” seperti Apple, Microsoft, Nvidia, dan lainnya.
Namun, syarat profitabilitas tetap menjadi hambatan. Indeks S&P 500 mewajibkan perusahaan mencatat laba selama empat kuartal berturut-turut sebelum bisa masuk indeks. Tanpa itu, perusahaan berisiko kehilangan aliran dana besar dari investor institusi.
Sejumlah analis mengingatkan tidak semua pemain awal dalam teknologi baru akan menjadi pemenang jangka panjang, sehingga diversifikasi tetap menjadi kunci bagi investor.(DH)