Eksekutif Minyak AS: Pasar salah baca risiko gangguan pasok dari Iran

Sabtu, 25 April 2026

image

NEW YORK – Para eksekutif dan pelaku industri minyak Amerika Serikat memperingatkan bahwa gangguan pasar energi akibat perang di Iran berpotensi jauh lebih buruk dari yang diperkirakan. Namun, mereka belum siap meningkatkan aktivitas pengeboran secara signifikan untuk merespons situasi tersebut.

Mengutip dari Semafor (23/04/26), perusahaan-perusahaan minyak besar saat ini memang tengah menikmati keuntungan dari tingginya harga minyak. Namun, angka pasti dampak tersebut baru akan terlihat dalam laporan keuangan kuartal I yang dirilis pekan depan. Di balik itu, industri menghadapi ketidakpastian besar akibat “kesenjangan harga” di pasar.

“Masalah sebenarnya adalah kurva di bagian belakang (back end of the curve) membohongi kita,” ujar Kaes Van’t Hof, CEO Diamondback Energy, dalam sebuah pertemuan energi di Universitas Columbia.

[[ Yang dimaksud dengan 'kurva di bagian belakang' adalah harga minyak berjangka (futures) untuk pengiriman di masa depan, bukan harga saat ini. Artinya. harga minyak saat ini (spot price) tinggi karena krisis dan gangguan pasokan.Tapi harga minyak di masa depan justru dipatok lebih rendah oleh pasar. ]]

Van’t Hof menilai perbedaan ini menyesatkan, karena pasar seolah menganggap krisis, termasuk gangguan di Selat Hormuz, akan segera selesai.

Padahal menurutnya, risiko gangguan pasokan bisa bertahan lama dan berdampak luas, tidak hanya pada energi, tetapi juga penerbangan, pangan, dan sektor industri lainnya. Sinyal harga yang terlalu rendah di masa depan ini juga membuat investasi pengeboran menjadi tertahan.

Van’t Hof menggambarkan respons produksi minyak AS dengan analogi:

“Produksi AS mungkin akan sedikit merespons, tetapi itu tidak sebanding dengan besarnya masalah. Ini seperti memasukkan selang taman ke dalam kolam renang ukuran Olimpiade yang dikosongkan.”

Di sela pertemuan di Universitas Columbia, para eksekutif energi dan analis menyampaikan kebingungan terhadap sinyal kebijakan pemerintah Presiden Donald Trump.

  • Secara publik, pemerintah menyatakan krisis hampir berakhir.
  • Namun secara tertutup, perusahaan minyak didorong untuk meningkatkan pengeboran.

Ketidakkonsistenan ini membuat industri sulit menentukan langkah investasi jangka panjang.

Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa lonjakan ekspor minyak AS, yang sebelumnya didukung Trump, justru bisa berbalik menjadi masalah domestik. Jika harga dalam negeri naik, tekanan politik bisa mendorong kebijakan pembatasan ekspor minyak mentah, yang akan merugikan industri.

Risiko Selat Hormuz 

Selama konflik berlangsung, pemerintah AS juga dinilai kurang responsif terhadap risiko di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.

Keterlambatan dalam koordinasi dengan industri serta minimnya langkah antisipasi disebut telah mengurangi fleksibilitas pasar dan mempersempit ruang negosiasi diplomatik.

Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group sekaligus mantan penasihat energi Presiden George W. Bush, mengatakan bahwa secara teknis hampir semua analis energi sepakat bahwa gangguan di Hormuz akan memicu krisis serius.

Namun pasar finansial dan investor justru terlihat lebih optimistis.

“Semua penghitung barel sepakat bahwa gangguan di Hormuz akan memicu krisis serius akibat kekurangan pasokan dan lonjakan harga. Tapi komunitas investor dan pedagang tampaknya jauh lebih optimistis,” kata McNally.

Ia menambahkan: “Sangat jarang, bahkan mungkin belum pernah, semua penghitung barel sepakat. Jadi jelas ada pihak yang keliru.” (SF)