Bank Sentral G7 bersiap hadapi lonjakan inflasi

Senin, 27 April 2026

image

JAKARTA - Bank sentral utama dunia bersiap menghadapi risiko lonjakan inflasi akibat konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan minyak global.

Seperti dikutip Bloomberg, dalam sepekan, bank sentral negara-negara G7 dijadwalkan menetapkan suku bunga, menciptakan momen langka ketika seluruh pembuat kebijakan moneter utama bertemu dalam waktu bersamaan.

Federal Reserve, European Central Bank, serta bank sentral Jepang, Inggris, dan Kanada diperkirakan menahan suku bunga. Namun, pasar akan mencermati sinyal kebijakan ke depan, terutama terkait potensi inflasi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Jika pejabat bank sentral memberi sinyal pengetatan lanjutan, pasar obligasi berpotensi tertekan. Dalam beberapa pekan terakhir, obligasi pemerintah tertinggal dibandingkan saham dan kredit, seiring pelaku pasar lebih fokus pada pemulihan aset berisiko.

Amy Xie Patrick dari Pendal Group mengatakan kondisi saat ini membuka ruang bagi bank sentral untuk bersikap lebih tegas. “Apa yang akan hilang dari para bankir sentral jika mereka bersikap hawkish sekarang?” ujarnya.

“Ada guncangan harga minyak. Ada gambaran inflasi yang tidak pasti. Obligasi ingin mengikuti pembalikan yang telah kita lihat di pasar saham, tetapi imbal hasilnya sangat stagnan.”

Pergerakan imbal hasil obligasi jangka pendek di AS hingga Inggris masih terbatas, meski beberapa aset utama sudah kembali ke level sebelum konflik. Volatilitas juga relatif rendah, dengan perubahan harian imbal hasil obligasi tenor pendek hanya sekitar dua basis poin bulan ini.

Stephen Miller dari GSFM menilai kondisi ini bisa berubah. “Retorika bank sentral mungkin hanya akan memprovokasi pasar obligasi yang sedang lesu dan mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi,” katanya,“ katanya.

Para pedagang obligasi mungkin akan terkejut dengan intensitas fokus pada inflasi.” Bank sentral kini lebih berhati-hati setelah pengalaman salah menilai inflasi sebagai sementara pada masa pandemi. Tekanan harga akibat kenaikan energi menjadi perhatian utama, seperti di Inggris di mana inflasi naik menjadi 3,3% pada Maret.

Di AS, pejabat Federal Reserve juga mengingatkan konflik dapat mendorong inflasi lebih tinggi, meski ketidakpastian arah harga minyak masih besar. Di sisi lain, data ekonomi seperti tenaga kerja dan penjualan ritel menunjukkan ketahanan ekonomi.

Molly Brooks dari TD Securities memperkirakan Ketua The Fed, Jerome Powell, akan mengambil sikap netral. “Sikap netral mengingat ketidakpastian dampak masa depan yang berasal dari Timur Tengah,” ujarnya.

Ia menambahkan, The Fed kemungkinan akan mengakui adanya kenaikan inflasi baru-baru ini disebabkan oleh guncangan harga minyak, namun juga mencatat bahwa inflasi yang mendasarinya hanya sedikit meningkat.

Brooks memprediksi imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun bergerak di kisaran 4,1%–4,4% dalam waktu dekat.

Sementara itu, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menekankan perlunya menilai risiko inflasi dari dua sisi. Di Eropa, Presiden ECB Christine Lagarde kembali menyoroti tingginya ketidakpastian, dengan pasar memperkirakan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Wee Khoon Chong dari BNY menyebut pasar akan fokus pada arah kebijakan ke depan. “Pasar akan mencari sinyal hawkish untuk mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga saat ini di Zona Euro, Inggris, Kanada dan Jepang,” katanya.

“Ketidakpastian geopolitik dan harga minyak serta petrokimia yang tinggi menghadirkan risiko inflasi yang meningkat dan risiko pertumbuhan yang menurun. Bank sentral kemungkinan akan menyampaikan nada hawkish yang hati-hati tetapi tidak akan memberikan komitmen terhadap langkah-langkah suku bunga di masa mendatang.”(DH)