OpenAI dan Anthropic mulai bajak talenta dengan kompensasi besar

Senin, 27 April 2026

image

JAKARTA - Perusahaan kecerdasan buatan seperti OpenAI dan Anthropic mulai merekrut eksekutif dari perusahaan software besar di tengah meningkatnya persaingan di sektor AI.

Seperti dikutip Cnbc, sejumlah eksekutif dari Salesforce, Snowflake, dan Datadog dilaporkan bergabung dengan perusahaan AI tersebut. Mereka direkrut dengan paket kompensasi besar serta peluang memanfaatkan jaringan klien korporasi yang telah dimiliki.

Salah satu perekrutan menonjol adalah Denise Dresser, yang kini menjabat sebagai chief revenue officer di OpenAI. Sebelumnya, ia merupakan CEO Slack di bawah Salesforce. Selain itu, Jennifer Majlessi juga bergabung sebagai kepala go to market OpenAI.

Persaingan perekrutan talenta di sektor AI sebelumnya didominasi oleh ilmuwan dan peneliti dengan bayaran tinggi. Namun, fokus kini bergeser ke eksekutif bisnis yang memiliki pengalaman penjualan dan hubungan dengan pelanggan korporasi.

Perubahan ini mencerminkan strategi baru perusahaan AI yang semakin menargetkan segmen enterprise. Segmen ini dinilai lebih menguntungkan dan memiliki loyalitas tinggi dibandingkan pasar ritel.

OpenAI mencatat pelanggan korporasi menyumbang sekitar 40% dari bisnisnya pada Januari dan diperkirakan meningkat menjadi 50% pada akhir tahun.

Perusahaan juga mengungkapkan lebih dari satu juta pelanggan bisnis telah menggunakan teknologinya secara global.

Di sisi lain, perusahaan software menghadapi tekanan dari perkembangan AI. Kekhawatiran bahwa teknologi baru akan mengganggu model bisnis berbasis langganan cloud membuat kinerja saham sektor ini melemah. Indeks iShares Expanded Tech-Software ETF (IGV) tercatat turun hampir 20% sepanjang tahun berjalan.

Tekanan juga terlihat dari langkah efisiensi tenaga kerja. Oracle dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja dalam jumlah besar seiring fokus pada pengembangan cloud berbasis AI.

Meta dan Microsoft juga mengurangi jumlah karyawan untuk mengalihkan investasi ke sektor AI. Fenomena ini mendorong pergeseran dalam pasar tenaga kerja teknologi, di mana profesional IT mulai menyesuaikan keahlian mereka agar tetap relevan dengan tren AI.

Jennifer Majlessi dalam unggahannya di LinkedIn menjelaskan alasannya bergabung dengan OpenAI. “Yang membuat kesempatan ini sangat bermakna adalah keyakinan tulus saya pada produk ini. Saya telah melihat betapa bermanfaatnya teknologi ini baik dalam pekerjaan maupun kehidupan,” tulisnya.

Selain eksekutif penjualan, OpenAI juga merekrut forward-deployed engineers dari Palantir Technologies. Posisi ini dikenal memiliki keahlian tinggi dalam membantu klien mengimplementasikan solusi teknologi secara langsung di lapangan.

Meski demikian, sejumlah sumber menyebut tidak semua talenta dari perusahaan teknologi tradisional cocok dengan budaya kerja di perusahaan AI. Perbedaan ritme kerja dan tuntutan jam kerja tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam proses adaptasi.(DH)