Perundingan damai Iran-AS terhenti, minyak tembus US$107
Senin, 27 April 2026

JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pada awal pekan, seiring mandeknya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memperpanjang gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Seperti dikutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah brent naik sekitar 2% hingga menyentuh US$107,97 per barel, level tertinggi dalam tiga pekan. Kenaikan ini memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga di negara maju tahun ini.
Di sisi lain, pasar saham mendapat dorongan dari optimisme terhadap belanja dari sektor kecerdasan buatan. Bursa di Asia seperti Taiwan, Tokyo, dan Seoul mengikuti reli Wall Street dan mencetak rekor tertinggi baru.
Di tengah tekanan harga energi, investor saham tetap optimistis terhadap sektor teknologi, khususnya AI.
"AI adalah sesuatu yang membuat orang sangat optimis dan dianggap sebagai pemenang," kata Mike Seidenberg dari Allianz Technology Trust. "Ini adalah yang teratas dalam portofolio."
Kinerja perusahaan semikonduktor menjadi pendorong utama reli pasar. Proyeksi pendapatan Intel yang melampaui ekspektasi memicu gelombang pembelian baru di saham chip, terutama di Asia.
Pekan ini, laporan keuangan perusahaan teknologi besar menjadi perhatian, termasuk Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, dan Apple.
Pergerakan mata uang relatif stabil, sementara pasar obligasi cenderung tenang menjelang pertemuan bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, European Central Bank, serta bank sentral Jepang, Inggris, dan Kanada.
Bank sentral utama diperkirakan menahan suku bunga. Namun, arah kebijakan ke depan masih menjadi perhatian, terutama di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan di Eropa dan Inggris.
Bank of Japan diperkirakan mempertahankan suku bunga di 0,75%. Federal Reserve juga diproyeksikan tidak mengubah suku bunga dalam pertemuan yang kemungkinan menjadi yang terakhir bagi Ketua Jerome Powell.
Meski konflik bersenjata mulai reda, pasar masih mencermati penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Aktivitas pengiriman energi melalui jalur tersebut masih sangat terbatas, hingga mendorong harga LNG untuk pengiriman Juni ke Asia Timur Laut tembus US$16,70 per MMBtu, naik hampir 61% dibandingkan sebelum konflik.
Analis Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak akhir tahun dari US$80 menjadi US$90 per barel.
"Kenaikan harga non-linear kemungkinan terjadi jika persediaan turun ke tingkat yang sangat rendah, yang belum pernah kita lihat dalam beberapa dekade terakhir," tulis analis Goldman dalam catatannya.
Upaya diplomatik memang tengah berlangsung, meski belum menunjukkan hasil signifikan. Laporan menyebut Iran membuka peluang kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara pembahasan nuklir ditunda. (DH/KR)