AS makin agresif, blacklist Hengli Petrochemical karena terkait Iran

Senin, 27 April 2026

image

JAKARTA – Sanksi baru Amerika Serikat (AS) terhadap salah satu kilang swasta terbesar di China, Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., meningkatkan tekanan terhadap sektor petrokimia Negeri Tirai Bambu sekaligus memicu potensi gangguan rantai pasok yang lebih luas di Asia.

Seperti dikutip Bloomberg, Departemen Keuangan AS pada Jumat lalu memasukkan Hengli ke dalam daftar hitam karena diduga memiliki keterkaitan dengan perdagangan minyak Iran.

Langkah ini menjadi salah satu yang paling agresif sejauh ini terhadap sektor penyulingan China. Hal tersebut juga menunjukkan keseriusan Washington dalam menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan, meski dilakukan hanya beberapa pekan sebelum pertemuan yang dinanti antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.

Pendiri GL Consulting, Liao Na, menilai langkah ini juga sarat muatan diplomatik. Menurutnya, rencana kunjungan Trump ke Beijing pada Mei mendatang membuat sanksi ini tampak sebagai alat tawar Washington, di tengah belum adanya kemajuan terkait konflik Iran dan ketegangan di Selat Hormuz.

Berbeda dari langkah sebelumnya yang hanya menyasar perusahaan kecil, kali ini AS menargetkan Hengli, yang merupakan simbol kilang swasta modern China. Perusahaan ini memiliki kompleks pengolahan minyak dan petrokimia besar di Provinsi Liaoning serta menjadi salah satu pemain utama dalam kapasitas penyulingan nasional.

Peneliti senior Columbia University Center on Global Energy Policy, Erica Downs, menyebut sanksi terhadap Hengli sebagai eskalasi signifikan. Hengli dinilai mewakili jenis fasilitas kilang-petrokimia terintegrasi yang justru ingin diperkuat Beijing, sekaligus menjadi pelanggan utama Saudi Aramco.

China sendiri merupakan pembeli terbesar minyak Iran, dengan sebagian besar pasokan masuk melalui jalur tidak langsung dan diolah oleh kilang swasta menjadi bensin, diesel, serta produk turunan lainnya. Namun, data bea cukai China tidak lagi mencatat pengiriman resmi tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Hengli membantah tuduhan AS dan menyebutnya tidak berdasar. Dalam keterbukaan informasi pada Minggu, perusahaan menegaskan tidak pernah melakukan perdagangan dengan Iran dan seluruh pemasok minyak mentahnya telah menjamin tidak berasal dari wilayah yang terkena sanksi AS.

Perusahaan juga menyatakan memiliki cadangan minyak mentah yang cukup untuk lebih dari tiga bulan operasional, serta memastikan kegiatan pengadaan belum terganggu. Namun ke depan, Hengli akan menggunakan yuan China untuk menyelesaikan transaksi pembelian.

Dampak sanksi ini diperkirakan meluas ke seluruh rantai pasok Asia. Sedikitnya dua pelanggan petrokimia Hengli di Asia dilaporkan telah membatalkan pesanan mereka. Hengli sendiri merupakan salah satu produsen terbesar purified terephthalic acid (PTA) dan pemasok petrokimia utama dunia.

Dengan keluarnya Hengli dari sistem pembayaran berbasis dolar AS, ratusan produsen kimia, serat sintetis, dan tekstil di Asia Timur berpotensi menghadapi gangguan pasokan bahan penting. Kondisi ini dapat menguntungkan pesaing di China, Jepang, dan Korea Selatan, tetapi juga berisiko meningkatkan tekanan inflasi di tengah konflik delapan minggu di Timur Tengah.

Hengli memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 400.000 barel per hari dan menjadi salah satu dari empat “mega” kilang swasta China bersama Yulong Petrochemical, Zhejiang Petrochemical, dan Shenghong Group yang secara kolektif menyumbang sekitar 10% kapasitas nasional.

Sentimen negatif langsung terlihat di pasar. Saham Hengli Petrochemical Co., yang mencakup operasi Dalian, anjlok hampir 10% pada pembukaan perdagangan Senin dan menyentuh batas penurunan harian. (DK)