BOLT perkuat ekspor global, targetkan Laba 2026 tumbuh 15%
Senin, 27 April 2026

JAKARTA - PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) menilai prospek industri komponen otomotif tetap kuat di tengah dinamika global. Perseroan mengandalkan pasar domestik, ekspansi ekspor, serta pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai motor pertumbuhan.
“Produksi otomotif di Indonesia tetap stabil dan menjadi basis ekspor yang terus bertumbuh, meskipun penjualan domestik sempat menurun,” ujar Anthony dalam paparan publik, Senin (27/04).
Untuk memperkuat kinerja, BOLT menetapkan lima fokus utama, yakni penguatan pasar domestik, penetrasi kendaraan listrik, ekspansi ekspor, diversifikasi ke sektor non-otomotif, serta pertumbuhan inorganik melalui akuisisi atau joint venture.
Menurut Anthony, pasar ekspor akan menjadi motor utama pertumbuhan. Dengan produksi otomotif global yang mencapai sekitar 80 juta unit per tahun, peluang peningkatan pangsa pasar masih terbuka lebar dibandingkan produksi Indonesia yang sekitar 1,2 juta unit. Saat ini, BOLT telah mengekspor produknya ke berbagai negara, termasuk Jerman, Amerika Serikat, dan India, serta terus memperluas penetrasi pasar global.
Di segmen kendaraan listrik, perseroan telah memasok komponen untuk roda dua, sementara untuk roda empat masih dalam tahap penjajakan dan pengembangan proyek. Selain sektor otomotif, BOLT juga memperluas bisnis ke industri infrastruktur dan alat berat yang mulai berkontribusi terhadap pertumbuhan penjualan.
Dari sisi kinerja, BOLT mencatat laba bersih tahun 2025 sebesar Rp139,40 miliar atau tumbuh 38,9% secara tahunan. Pendapatan perseroan juga meningkat 13%, didorong kenaikan pangsa pasar di segmen kendaraan roda empat serta ekspor.
Ke depan, BOLT menargetkan laba bersih pada 2026 tumbuh sekitar 15%. Strategi pertumbuhan difokuskan pada realisasi proyek lokalisasi original equipment manufacturer (OEM). “Yang paling bisa kita eksekusi di 2026 ini adalah realisasi proyek-proyek lokalisasi dari OEM yang kita jalankan,” ujar Anthony.
Ia menambahkan, daya saing perseroan ditopang oleh biaya produksi yang kompetitif, skala usaha, serta integrasi vertikal dari proses material hingga pelapisan (plating). “Proteksionisme bisa menghambat, tapi tidak akan menghentikan. Supply chain otomotif sudah sangat global,” kata Anthony.
Pada kesempatan yang sama, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp50 per saham atau setara sekitar Rp117 miliar. Dengan harga saham BOLT pada Senin (27/4) pukul 14.35 WIB di level Rp940 per saham, dividend yield tercatat sekitar 5,32%. (DH)