Laba industri China melonjak 15,8%, AI dan Chip jadi mesin pertumbuhan

Selasa, 28 April 2026

image

JAKARTA - Laba perusahaan industri di China mencatat pertumbuhan tercepat dalam enam bulan pada Maret 2026, didorong lonjakan sektor teknologi tinggi di tengah tekanan kenaikan harga minyak global.

Seperti dikutip Cnbc, Data National Bureau of Statistics (NBS) menunjukkan laba industri naik 15,8% secara tahunan pada Maret, meningkat dari pertumbuhan 15,2% pada dua bulan pertama tahun ini. Sepanjang kuartal I, laba perusahaan tumbuh 15,5%, menjadi awal tahun terkuat sejak 2017 di luar periode lonjakan saat pandemi.

Kepala statistik NBS, Yu Weining, mengatakan pertumbuhan laba terutama ditopang sektor manufaktur peralatan dan teknologi tinggi. Pada kuartal I, laba di kedua sektor tersebut masing-masing naik 21% dan 47,4%.

Boom kecerdasan buatan dan semikonduktor mendorong lonjakan kinerja di berbagai subsektor. Produsen serat optik mencatat kenaikan laba hingga 336,8%, sementara industri optoelektronik dan perangkat display masing-masing tumbuh 43% dan 36,3%.

Permintaan produk berbasis teknologi juga mengangkat kinerja industri baru. Laba produsen drone meningkat 53,8%, sedangkan produsen perangkat pintar lainnya naik 67,3%.

Di sisi lain, produsen bahan baku mencatat kenaikan laba 77,9% setelah kilang minyak kembali mencetak keuntungan.

Sektor strategis seperti dirgantara, energi baru, dan teknologi informasi generasi berikutnya turut mendorong lonjakan 116,7% pada industri logam nonferrous.

Kinerja ini melanjutkan tren pemulihan setelah pada 2025 laba industri hanya tumbuh 0,6% usai mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut.

Zhiwei Zhang dari Pinpoint Asset Management menilai ekspor manufaktur menjadi penopang utama. Ekspor China pada kuartal I tumbuh 14,7% secara tahunan dalam dolar AS, tertinggi sejak awal 2022.

Namun, ia mengingatkan konflik di Timur Tengah berpotensi menekan ekonomi pada kuartal berikutnya.

“Konflik di Timur Tengah akan tetap membebani perekonomian pada kuartal kedua, karena harga energi yang lebih tinggi dan melemahnya permintaan eksternal menimbulkan hambatan yang semakin besar bagi para eksportir,” ujarnya.

Sementara itu, kenaikan laba terjadi di tengah lonjakan harga minyak global yang mulai menekan biaya produksi. Harga minyak Brent melonjak sekitar 48% sejak konflik meningkat pada akhir Februari, memicu kenaikan biaya bahan kimia, serat, dan plastik di rantai pasok global.

Tekanan ini muncul saat permintaan domestik masih lemah akibat krisis sektor properti dan pasar tenaga kerja yang belum pulih, memicu persaingan harga di berbagai sektor.

Meski demikian, kenaikan harga logam serta kebijakan pemerintah untuk menekan kelebihan kapasitas produksi membantu meredakan tekanan deflasi. Harga produsen China kembali tumbuh positif pada Maret, mengakhiri tren deflasi terpanjang dalam beberapa dekade.

China juga masih memiliki bantalan pasokan melalui cadangan minyak Iran, baik di darat maupun di kapal tanker. Namun, potensi gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasokan, mengingat sekitar separuh impor minyak China melewati jalur tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap kilang independen di China yang membeli minyak Iran, yang dapat berdampak pada pasokan energi domestik.(DH)