Pasar sudah perhitungkan risiko stagflasi ringan
Selasa, 28 April 2026

NEW YORK – Dolar Amerika Serikat bergerak stabil pada perdagangan Senin (27/4) seiring pelaku pasar masih mencermati belum jelasnya arah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Seperti dikutip Reuters, ketidakpastian ini membuat investor tetap waspada, sementara yen Jepang bertahan tepat di bawah level krusial 160 menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pekan ini.
Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan utusannya ke Islamabad pada akhir pekan dan menyatakan Iran dapat menghubungi Washington jika ingin merundingkan akhir perang yang telah berlangsung selama dua bulan.
Kondisi ini membuat Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global, secara efektif masih tertutup.
Namun sentimen pasar sempat membaik setelah laporan Axios menyebut Iran mengajukan proposal baru kepada AS melalui mediator Pakistan terkait pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dan penghentian perang, sementara pembicaraan soal nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Euro memangkas pelemahan awal dan diperdagangkan stabil di level US$1,1724, sementara poundsterling berada di US$1,3536.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat di posisi 98,491.
Dolar sebelumnya sempat menguat pada Maret karena aliran dana safe haven saat perang pecah, namun sebagian besar kenaikan itu terkoreksi karena harapan tercapainya perdamaian.
Dalam beberapa hari terakhir, mata uang AS kembali stabil setelah negosiasi AS-Iran mengalami kebuntuan.
Analis Capital.com Kyle Rodda menilai pasar terlalu percaya diri terhadap peluang perdamaian, padahal risiko konflik kembali memanas masih sangat besar.
Ia menyebut jika kesepakatan damai gagal tercapai, pasar dapat mengalami repricing yang sangat tajam karena saat ini sebagian besar aset sudah mencerminkan skenario damai.
Meski gencatan senjata telah menghentikan pertempuran skala penuh sejak konflik dimulai melalui serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, hingga kini belum ada kesepakatan final mengenai syarat penghentian perang.
Perang tersebut telah mendorong lonjakan harga minyak, meningkatkan tekanan inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global.
Semakin lama Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, tetap tertutup, semakin besar pula risiko terhadap ekonomi global.
Harga minyak Brent naik 1% menjadi US$106,7 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,2% ke level US$95,53 per barel.
Ekonom AMP Shane Oliver mengatakan pasar saat ini telah memperhitungkan risiko stagflasi ringan, namun ancaman dapat membesar jika kondisi berkembang seperti krisis energi era 1970-an.
[[ Stagflasi adalah kondisi ekonomi yang buruk ditandai oleh pertumbuhan ekonomi melambat (stagnan), inflasi tetap tinggi, dan biasanya juga disertai peningkatan pengangguran.]]
Selain konflik geopolitik, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada rangkaian rapat bank sentral global. BOJ diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Selasa, namun tetap memberi sinyal kesiapan menaikkan suku bunga paling cepat Juni mendatang.
Yen Jepang melemah ke level 159,51 per dolar AS, mendekati batas psikologis 160 yang dikhawatirkan dapat memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Bank sentral lain seperti Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England juga diperkirakan menahan suku bunga, sementara pasar menunggu pandangan mereka mengenai dampak perang terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan. (DK)