Gangguan Hormuz dorong dunia borong energi bersih China

Selasa, 28 April 2026

image

TEHERAN - Perang Iran mendorong banyak negara yang bergantung pada impor minyak beralih lebih cepat ke energi bersih, dan China menjadi pihak yang paling diuntungkan dari tren tersebut.

Gangguan pasokan energi global terjadi setelah konflik Iran memicu terganggunya jalur distribusi minyak dan gas, terutama di Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan energi dunia. 

Seperti dikutip CNN, kondisi ini membuat negara-negara yang kekurangan pasokan bahan bakar mencari alternatif energi yang lebih stabil, termasuk energi terbarukan.

Sebagai produsen terbesar kendaraan listrik, panel surya, turbin angin, dan baterai, China langsung merasakan lonjakan permintaan global. 

Lembaga riset energi Ember mencatat ekspor teknologi surya, baterai, dan kendaraan listrik China mencapai rekor tertinggi pada Maret.

Ekspor teknologi panel surya China mencapai 68 gigawatt pada Maret, melonjak 50% dibanding rekor sebelumnya yang tercatat pada Agustus tahun lalu. 

Sebanyak 50 negara mencetak rekor baru dalam impor panel surya dari China, terutama dari pasar berkembang di Asia dan Afrika yang paling terdampak krisis energi.

Senior Analyst Ember, Euan Graham, mengatakan guncangan harga bahan bakar fosil justru mempercepat adopsi energi surya secara global.

“Guncangan bahan bakar fosil mendorong lonjakan energi surya. Solar kini telah menjadi mesin ekonomi global, dan gejolak harga energi fosil membuat pertumbuhannya semakin cepat,” ujarnya.

Secara keseluruhan, ekspor panel surya, baterai, dan kendaraan listrik atau yang dikenal sebagai “new three” di China naik 70% secara tahunan pada Maret. 

Tiga sektor ini kini menjadi penopang baru pertumbuhan ekonomi China menggantikan ekspor tradisional seperti pakaian, furnitur, dan peralatan rumah tangga.

Ekspor baterai China bahkan mencapai USD10 miliar pada Maret, dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari Uni Eropa, Australia, dan India.

Negara-negara Asia yang selama ini bergantung pada impor energi dari Timur Tengah juga mulai melakukan penghematan energi, termasuk memperpendek jam kerja dan mempercepat investasi pada energi terbarukan.

Di sisi lain, China juga semakin kuat secara geopolitik karena dominasinya dalam rantai pasok energi hijau global.

Investasi besar pemerintah dalam sektor energi bersih membuat negara tersebut lebih tahan terhadap gejolak pasokan minyak sekaligus memperluas pengaruh ekonomi melalui ekspor teknologinya.

Pakistan menjadi salah satu contoh negara yang relatif lebih terlindungi dari krisis energi karena sejak beberapa tahun terakhir agresif mengimpor panel surya murah dari China.

Langkah itu diperkirakan menghemat miliaran dolar dari pengurangan impor minyak mahal.

Selain itu, adopsi kendaraan listrik global juga mulai menekan konsumsi minyak dunia. 

Ember memperkirakan penggunaan EV telah memangkas konsumsi minyak sekitar 1,7 juta barel per hari tahun lalu.

Meski sebagian lonjakan ekspor Maret dipicu aksi penimbunan sebelum China menghapus insentif pajak ekspor pada April, para analis menilai konflik Timur Tengah tetap memperkuat alasan jangka panjang bagi dunia untuk beralih ke energi alternatif.

Penurunan harga panel surya dan baterai, ditambah harga bahan bakar fosil yang semakin mahal dan tidak stabil, membuat energi surya menjadi pilihan yang semakin sulit diabaikan.