Enam tanker minyak Iran balik arah dihadang blokade Amerika

Selasa, 28 April 2026

image

JAKARTA - Enam kapal tanker bermuatan minyak Iran terpaksa berbalik arah ke Iran dalam beberapa hari terakhir akibat blokade Amerika Serikat, berdasarkan data pelacakan kapal. Kondisi ini menegaskan dampak perang Iran terhadap lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama ekspor energi global.

Sebelum perang AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi selat tersebut setiap hari. Namun dalam 24 jam terakhir, hanya tujuh kapal yang tercatat melintas, tanpa satu pun membawa minyak untuk pasar global, menurut data Kpler dan analisis satelit SynMax.

Kapal yang terdampak termasuk kapal berbendera Iran Bavand yang berangkat dari pelabuhan Iran, serta sejumlah kapal lain yang berangkat dari pelabuhan Irak. Iran menerapkan pembatasan pelayaran di selat tersebut, sementara AS sejak 13 April memberlakukan blokade terhadap kapal yang terkait Iran. Militer AS menyatakan telah memaksa 37 kapal berbalik hingga 25 April, meski tidak merinci jenis kapal maupun lokasi intersepsi.

Selat Hormuz selama ini menangani sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global per hari. Aktivitas di jalur ini tetap terbatas seiring mandeknya perundingan Iran dan Amerika Serikat hampir dua bulan sejak konflik berlangsung.

"Iran telah menyerang dan menahan kapal karena tidak mematuhi persyaratan transit yang ditetapkan, sementara AS terus memberlakukan blokade," kata broker kapal Clarksons dalam catatan pada hari Senin, seperti dikutip koreatimes.

Dalam beberapa hari terakhir, enam tanker yang dipaksa kembali ke pelabuhan Iran membawa sekitar 10,5 juta barel minyak, menurut analisis TankerTrackers.com. Meski demikian, sebagian kapal masih diizinkan melintas.

Dua tanker yang mengangkut sekitar 4 juta barel minyak Iran berhasil melewati blokade pada 24 April dan menuju Asia. Sementara itu, empat tanker kosong Iran terakhir terdeteksi di sekitar perairan Pakistan setelah kembali dari Asia. Analis menyebut pasukan AS mencegat kapal terkait Iran hingga ke arah timur Selat Malaka. Kondisi ini membuat ketidakpastian terhadap pengiriman kargo, apakah akan sampai ke pembeli atau kembali diarahkan ke Iran.

Ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di kawasan Teluk. Situasi ini meningkatkan risiko keselamatan. "Para pelaut tersebut 'terpapar risiko signifikan dan tekanan psikologis yang cukup besar'," kata Arsenio Dominguez, Sekretaris Jenderal badan pelayaran PBB, Organisasi Maritim Internasional, dalam sebuah sesi komite pada hari Senin. "Semakin lama situasi ini berlanjut, semakin besar risiko kecelakaan serius, termasuk kecelakaan lingkungan."(DH)