Bisnis rugi tiga tahun, PYFA cari suntikan modal lewat rights issue

Selasa, 28 April 2026

image

JAKARTA – PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), emiten farmasi dan peralatan medis milik Rejuve Global Investment, akan menghimpun dana segar lewat Penambahan Modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

Aksi korporasi ini menambah jumlah saham beredar PYFA sebanyak 5,7 miliar lembar, setara 33,65% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada investor, manajemen PYFA menyebut dana hasil rights issue ini akan dipakai untuk memperkuat struktur modal dan akuisisi, “dalam rangka mendukung pengembangan usaha perseroan.”

Bersama dengan penerbitan saham baru itu, PYFA juga menerbitkan 3,75 miliar Waran Seri II. Jumlah ini setara 33,41% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah rights issue.

“Dana hasil pelaksanaan Waran Seri II seluruhnya akan digunakan oleh perseroan untuk modal kerja dan biaya operasional perseroan,” jelas manajemen PYFA, dalam prospektus rights issue.

PYFA telah mendapat persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 April 2026, terkait rencana penghimpunan dana ini. Pemegang saham juga memberikan kuasa kepada direksi untuk menentukan jadwal, rasio, dan pembeli siaga dalam rights issue.

Jika pemegang saham lama PYFA tidak mengambil bagian atas saham baru dalam rights issue dan penerbitan waran, porsi kepemilikannya akan terdilusi 33,65-45,69%.

Manajemen PYFA menjadwalkan periode rights issue akan efektif mulai 29 Juni 2026. Recording date dijadwalkan pada 9 Juli 2026, serta pencatatan saham dan waran di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 13 Juli 2026.

Menurut data IDNFinancials.com, PYFA mengalami kerugian dalam menjalankan bisnisnya tiga tahun terakhir. Perusahaan terakhir kalinya mencetak laba bersih pada 2022 sebesar Rp275 miliar.

PYFA memiliki total aset sebesar Rp6,77 triliun hingga akhir 2025. Namun total ekuitasnya hanya Rp985 miliar, akibat total ekuitas yang mencapai Rp5,78 triliun. (KR)