Perang Iran hantam ekonomi Teluk, GCC menuju krisis terdalam
Selasa, 28 April 2026

JAKARTA - Ekonomi negara-negara Teluk memasuki krisis terdalam sejak pandemi, dipicu dampak perang AS-Israel dengan Iran yang mengguncang jalur energi utama kawasan.
Seperti dikutip Reuters, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) diperkirakan mengalami kontraksi pada 2026 setelah efek rambatan konflik menekan sektor energi, yang menjadi tulang punggung ekonomi kawasan. Lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan memicu guncangan yang disebut-sebut menyerupai krisis energi era 1970-an.
Dalam jajak pendapat ekonom periode 8-24 April, proyeksi pertumbuhan 2026 dipangkas tajam. Sejumlah negara bahkan beralih dari proyeksi ekspansi menjadi kontraksi. Pemulihan diperkirakan terjadi pada 2027.
Penutupan hampir total Selat Hormuz jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan energi global, serta kerusakan kilang dan fasilitas gas di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar, menekan aktivitas ekonomi kawasan secara signifikan.
Meski harga minyak masih sekitar 40% lebih tinggi dibanding sebelum perang, ekonomi Qatar, Kuwait, dan Bahrain diproyeksikan menyusut masing-masing 6,0%, 4,4%, dan 2,9% tahun ini. Proyeksi ini berbalik tajam dari perkiraan Januari yang masing-masing menunjukkan pertumbuhan 4,9%, 3,4%, dan 2,9%.
"Timur Tengah merupakan kawasan dengan pertumbuhan pariwisata tercepat dalam beberapa tahun terakhir, jadi jelas hal itu akan berubah bentuk, dan hal itu berdampak pada sektor ritel dan bidang lainnya."
Ekonom memperkirakan pemulihan cepat pada 2027 dengan asumsi konflik segera mereda. Qatar, UEA, dan Kuwait diproyeksikan tumbuh masing-masing 7,8%, 5,4%, dan 5,0% tahun depan. Sementara Arab Saudi, Bahrain, dan Oman diperkirakan tumbuh 4,5%, 4,3%, dan 2,8%.
Proyeksi ini sejalan dengan pandangan Dana Moneter Internasional (IMF) bahwa produksi dan distribusi energi di kawasan akan pulih dalam beberapa bulan ke depan.
"Penundaan berkepanjangan dalam kembali ke kapasitas produksi penuh karena kerusakan dan penghentian produksi akan berdampak signifikan namun tidak merata pada perekonomian dan keuangan publik negara-negara GCC," tulis ekonom Goldman Sachs.
"Namun, dalam jangka panjang, kami memperkirakan pemulihan aktivitas ekonomi akan kuat di semua sektor, didukung oleh tingginya tingkat investasi publik, yang dibiayai oleh pemulihan pendapatan hidrokarbon... dan tingginya tingkat tabungan pemerintah."
Kenaikan harga minyak juga mendorong inflasi global, termasuk di kawasan Teluk. Inflasi di Bahrain diperkirakan mencapai rata-rata 2,4% pada 2026, naik dari proyeksi Januari sebesar 1,4%.Sementara itu, inflasi di UEA, Qatar, Kuwait, dan Oman masing-masing diproyeksikan sebesar 2,6%, 2,6%, 2,9%, dan 1,7%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan tiga bulan sebelumnya. Adapun inflasi Arab Saudi diperkirakan tetap di level 2,0%.(DH)