Harga resin naik, daur ulang Malaysia melonjak

Selasa, 28 April 2026

image

JAKARTA - Permintaan plastik daur ulang di Malaysia meningkat seiring gangguan pasokan global, namun industri tetap bergantung pada impor limbah plastik untuk menjaga kualitas bahan baku.

Di sebuah fasilitas daur ulang sekitar 50 km dari Kuala Lumpur, limbah plastik seperti popok bekas diolah menjadi low-density polyethylene (LDPE) untuk kebutuhan industri. Perusahaan pengolah plastik, Sannanda Rika, mengimpor limbah dari Uni Eropa dan Jepang untuk memproduksi hingga 500 ton LDPE setiap bulan.

“Ini adalah ‘bunyi popcorn’ hangat untuk polietilen densitas rendah (LDPE) sebagai bahan dasar untuk kemasan industri, terpal, dan pita tetes,” kata G. Aushal, Direktur Pelaksana Sannanda Rika, seperti dikutip Straitstimes.

Perang Iran turut mengganggu rantai pasok plastik global. Kenaikan harga resin murni berbasis minyak mendorong lonjakan permintaan plastik daur ulang. Pelanggan dari Singapura, misalnya, meningkatkan pesanan secara signifikan.

“Seorang pelanggan yang berbasis di Singapura tidak dapat memperoleh pasokan plastik, jadi dia meminta saya untuk mengirim hingga tiga kontainer 40 kaki berisi resin plastik daur ulang per minggu, bukan per bulan seperti sebelumnya.”

Asosiasi daur ulang plastik Malaysia, mencatat permintaan naik 20% hingga 30% sejak konflik meningkat. Di saat yang sama, harga bahan baku plastik murni melonjak lebih dari 50% hingga 60%, mendorong produsen beralih ke material daur ulang.

“Biasanya, harga produk akhir resin daur ulang 10 hingga 20% lebih rendah daripada resin murni, yang diproduksi langsung dari minyak mentah. Kami mendorong keras pemerintah untuk menerapkan Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) untuk mendorong peningkatan permintaan resin daur ulang,” kata Will Low dari Asosiasi Pendaur Ulang Plastik Malaysia.

Pemerintah Malaysia melihat momentum ini sebagai peluang memperkuat industri daur ulang. Namun, keterbatasan kualitas limbah domestik menjadi kendala. Plastik lokal sering tercampur dan terkontaminasi, sehingga tidak memenuhi standar industri.

“Komponen elektronik presisi tinggi dan perangkat medis, termasuk beberapa alat pelindung diri, seringkali membutuhkan resin murni karena ketahanan panasnya yang unggul dan sifat isolasinya yang kuat,” ujar Mike Tan dari Asosiasi Produsen Plastik Malaysia.

Seorang pelaku industri menambahkan kualitas plastik menurun setiap kali didaur ulang. “Produk rumah tangga dapat menggunakan lebih banyak resin plastik daur ulang, karena paling-paling hanya memengaruhi warna dengan risiko pecah yang lebih rendah. Namun, produk otomotif membutuhkan material berkualitas lebih tinggi, karena resin daur ulang mungkin tidak memberikan daya tahan jangka panjang.”

Ketergantungan pada impor juga menjadi sorotan. Malaysia mengimpor sekitar 460.000 ton limbah plastik senilai US$162 juta pada 2025, menjadikannya salah satu importir terbesar dunia. Pemerintah sempat mempertimbangkan moratorium impor untuk menekan praktik ilegal dan dampak lingkungan.

Namun, pelaku industri menilai impor masih diperlukan karena kualitasnya lebih baik dan lebih konsisten dibandingkan limbah domestik. “Sementara itu, sumber plastik homogen impor menawarkan bahan baku berkualitas lebih tinggi untuk memproduksi resin bernilai tinggi dan menghasilkan margin keuntungan yang berkelanjutan.”

Sebagian besar bahan baku Sannanda Rika, sekitar 70% hingga 80%, masih berasal dari luar negeri. Limbah impor umumnya berasal dari sisa produksi industri yang lebih bersih, sementara limbah domestik didominasi sampah konsumsi yang lebih terkontaminasi.

Meski demikian, prospek industri tetap positif. Keterbatasan pasokan resin murni mendorong produsen meningkatkan penggunaan plastik daur ulang. “Kelangkaan resin murni telah mendorong banyak pihak untuk meningkatkan penggunaan bahan daur ulang dalam produk mereka. Akibatnya, permintaan bahan daur ulang di masa depan diperkirakan akan meningkat, seiring dengan semakin baiknya pemahaman produsen tentang komposisinya,” kata Aushal.(DH)