Penjualan emas melonjak, laba ANTM melonjak 61,9% kuartal satu 2026
Selasa, 28 April 2026

JAKARTA – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp3,4 miliar hingga 31 Maret 2026.
Angka tersebut naik 61,9% dari Rp2,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Melonjaknya laba bersih didukung oleh penjualan bersih yang mencapai Rp29,32 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 12% dibandingkan Rp26,15 triliun pada kuartal I 2025.
Penjualan domestik berkontribusi sebesar Rp28,31 triliun atau setara 97% dari total penjualan bersih.
Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menyampaikan bahwa pertumbuhan ini sejalan dengan strategi untuk memperkuat basis pelanggan dalam negeri, khususnya pada produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.
“Capaian kinerja keuangan yang positif tersebut turut didukung oleh konsistensi Perusahaan dalam menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dan inovatif, serta pengendalian biaya yang efektif dan disiplin di seluruh lini operasional,” tambah Untung, dalam keterangan tertulis Perseroan, Selasa (28/4).
Untung menambahkan, implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham.
Pada 1Q26, segmen emas berkontribusi sekitar 81% terhadap total penjualan. Penjualan emas tumbuh 11% menjadi Rp23,89 triliun, dari Rp21,61 triliun pada 1Q25. Melalui penguatan strategi pemasaran domestik, volume penjualan emas mencapai 8.464 kg (272.124 troy oz.).
Hingga 31 Maret 2026, ANTAM membukukan total aset sebesar Rp63,30 triliun pada 1Q26, meningkat 31% dari Rp48,30 triliun pada 1Q25.“Pertumbuhan aset mencerminkan ekspansi usaha serta penguatan kapasitas operasional dalam mendukung kinerja yang berkelanjutan,” katanya.
Nilai ekuitas juga meningkat 17% menjadi Rp40,41 triliun, dari Rp34,62 triliun pada 1Q25. Sementara itu, posisi kas dan setara kas tercatat sebesar Rp9,04 triliun, naik 31% dari Rp6,92 triliun pada 1Q25, mencerminkan fleksibilitas keuangan Perusahaan dalam mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan usaha.
Untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku, ANTAM menandatangani Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Grup pada 4 Maret 2026.
“Kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kedaulatan emas nasional sekaligus memastikan kesinambungan pasokan bagi industri domestik,” ujarnya.
Segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) berkontribusi sebesar 15% atau Rp4,47 triliun terhadap total penjualan pada kuartal I 2026, meningkat 19% dari Rp3,77 triliun pada kuartal I 2025.
Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan volume penjualan sebesar 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik.
Sementara itu, produksi feronikel tercatat sebesar 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan mencapai 2.803 TNi. Seluruh penjualan feronikel terserap oleh pasar ekspor.
Segmen bauksit dan alumina berkontribusi sebesar 3% terhadap total penjualan dengan nilai Rp879,14 miliar, meningkat 24% dibandingkan Rp708,75 miliar pada 1Q25.
Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt, sejalan dengan optimalisasi kapasitas dan produktivitas tambang serta peningkatan serapan pasar domestik.
Volume penjualan tercatat sebesar 593.476 wmt, naik 9% dari 544.750 wmt pada 1Q25.
Sejalan dengan optimalisasi operasi pabrik CGA, produksi alumina (chemical grade alumina) mencapai 49.566 ton, meningkat 13% dibandingkan 44.051 ton pada 1Q25.
Dari sisi penjualan, volume tercatat sebesar 49.072 ton, tumbuh 11% dari 44.048 ton. (DK)