Laba perdana GOTO Rp257,9 miliar, berkat komisi mitra dan fintech
Selasa, 28 April 2026

JAKARTA – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), emiten teknologi yang dikenal lewat bisnis transportasi online hingga e-commerce, menghasilkan laba bersih pertamanya sejak Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut laporan keuangan yang disampaikan Selasa (28/4), GOTO mencatat perolehan laba bersih Rp257,9 miliar pada kuartal pertama 2026. Hal ini berbalik dari kerugian Rp283 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu.
Perolehan ini sejalan dengan kinerja pendapatan GOTO, yang meningkat 26,3% secara tahunan menjadi Rp5,34 triliun di kuartal pertama 2026. Pada kuartal yang sama tahun lalu, pendapatan GOTO hanya mencapai Rp4,2 triliun.
Bisnis jasa pengiriman jadi kontributor utama, dengan perolehan Rp1,56 triliun atau setara 29,2% terhadap total pendapatan GOTO di kuartal pertama 2026. Bisnis ini secara tahunan juga tumbuh 12,07%.
Pendapatan terbesar kedua berasal dari imbalan jasa, yang mencapai Rp1,52 triliun atau setara 28,5% terhadap total pendapatan. Rincian pendapatan imbalan jasa ini berasal dari mitra pengemudi, pedagang, dan pengguna platform Gojek.
Sementara pendapatan terbesar ketiga berasal dari bisnis Peer-To-Peer (P2P) Lending, yang mencapai Rp1,31 triliun. Bisnis ini juga menunjukkan pertumbuhan paling pesat mencapai 72,43% secara tahunan.
Adapun tiga lini bisnis lain yang berkontribusi terhadap pendapatan GOTO yaitu imbalan jasa e-commerce Rp288 miliar, imbalan iklan Rp136 miliar, dan lain-lain Rp518 miliar.
Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, mengatakan capaian laba perdana ini jadi momen penting bagi perseroan setelah kerja keras bertahun-tahun.
“GoTo mencapai titik ini berkat dukungan jutaan mitra driver di seluruh Indonesia,” jelas Hans, dalam keterangan resminya.
Sementara itu Direktur Keuangan GOTO, Simon Ho, mengatakan capaian tersebut mencerminkan operating leverage yang kini tertanam dalam bisnis perusahaan.
“Kami memasuki sisa tahun ini dengan arus kas bebas yang disesuaikan positif dan neraca keuangan yang kuat, menegaskan kembali pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun,” jelas Simon dalam kesempatan yang sama.
Menurut data IDNFinancials.com, GOTO menggelar IPO di BEI pada 2022, dengan perolehan dana Rp13,5 triliun.
Namun seluruh dana itu telah habis terserap pada 2025, sesuai rencana dalam prospektus dan perubahan yang disepakati oleh pemegang saham.
Saat itu sahamnya dibanderol di harga Rp338 per lembar. Namun harga sahamnya saat ini berada di level Rp53 per lembar, merosot 84,32% sejak IPO. (KR)