Keluar dari OPEC, UEA ubah peta kekuatan minyak dunia

Rabu, 29 April 2026

image

ABU DHABI - Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengumumkan keluar dari OPEC, langkah yang dinilai menjadi pukulan besar bagi kartel minyak dunia yang selama puluhan tahun berperan mengendalikan harga minyak dan pasokan energi global.

Sebagai salah satu produsen minyak terbesar di OPEC setelah Arab Saudi, Irak, dan Iran, UEA sebelumnya memproduksi sekitar 3,6 juta barel per hari atau setara 3% dari pasokan minyak dunia sebelum pecahnya perang Iran.

Keputusan hengkang dari OPEC ini terjadi di tengah konflik AS-Israel dengan Iran yang telah memaksa banyak produsen di kawasan Teluk Persia memangkas produksi, mengutip dari The New York Times.

Meski dampak jangka pendek terhadap harga minyak dinilai terbatas, dalam jangka panjang langkah ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar karena semakin sedikit pasokan minyak yang berada di bawah kontrol kuota produksi OPEC.

Selama ini, pejabat UEA kerap mengeluhkan kebijakan kuota OPEC yang dianggap membatasi kemampuan negara tersebut untuk meningkatkan ekspor minyak. 

UEA, yang menargetkan kapasitas produksi mencapai 5 juta barel per hari pada 2027, ingin memiliki keleluasaan lebih besar dalam memenuhi permintaan energi global.

Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouei, menyatakan negaranya membutuhkan kebebasan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia tanpa dibatasi kelompok tertentu.

“Dunia membutuhkan lebih banyak energi dan sumber daya, dan UEA ingin tidak terikat oleh kelompok mana pun,” ujarnya.

Keputusan ini juga mencerminkan meningkatnya ketegangan antara UEA dan Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC.

Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara semakin berbeda arah kebijakan, baik dalam urusan geopolitik maupun strategi energi.

Harga minyak Brent sempat terkoreksi setelah pengumuman tersebut, namun masih diperdagangkan lebih dari 2% lebih tinggi dibanding sehari sebelumnya. 

Sejak awal perang Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz, harga minyak telah melonjak lebih dari 50%.

UEA menjadi negara terbaru yang keluar dari OPEC setelah Angola, Ekuador, dan Qatar.

Namun, karena skala produksi minyaknya jauh lebih besar, keputusan UEA dinilai jauh lebih signifikan terhadap masa depan pasar energi global. (DK)