Ekspor LNG AS tutup kekurangan pasokan Qatar

Rabu, 29 April 2026

image

NEW YORK - Eksportir LNG Amerika Serikat untuk sementara berhasil menutup kekurangan pasokan global akibat turunnya ekspor gas alam cair dari Qatar setelah serangan Iran terhadap fasilitas energinya dan penutupan jalur pelayaran utama di Timur Tengah.

Gangguan tersebut membuat total pasokan LNG global tetap berada di level rekor meski perang masih berlangsung, mengutip dari Reuters.

Qatar, produsen LNG terbesar ketiga dunia, mengalami kerusakan besar pada fasilitas ekspornya. 

CEO QatarEnergy bulan lalu mengatakan serangan itu menghapus sekitar 17% kapasitas ekspor LNG negara tersebut dan dampaknya bisa berlangsung hingga lima tahun.

Sejauh ini, eksportir AS menutup kekosongan pasokan itu dengan memaksimalkan kapasitas pencairan gas serta memperketat jadwal pemuatan kapal untuk meningkatkan volume pengiriman.

Data dari Kpler menunjukkan ekspor LNG AS diperkirakan mencapai rekor 32,15 juta metrik ton selama Januari hingga April 2026, naik 28% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan sekitar 7 juta ton dari AS itu bahkan melampaui penurunan ekspor Qatar sebesar 6,93 juta ton pada periode yang sama.

Akibatnya, total ekspor LNG global melalui jalur laut diperkirakan mencapai lebih dari 149 juta ton pada empat bulan pertama 2026, naik 6% secara tahunan, dengan AS menyumbang rekor 18% dari total volume tersebut.

Terminal Sabine Pass milik Cheniere Energy di Louisiana masih menjadi pusat utama ekspor LNG AS, menangani sekitar 25% dari total ekspor pada kuartal pertama tahun ini.

Namun terminal Plaquemines LNG milik Venture Global menjadi pendorong terbesar lonjakan ekspor, dengan kenaikan volume mencapai 240% dibanding tahun lalu.

Fasilitas itu memuat hampir 6,5 juta ton LNG pada kuartal pertama 2026, naik dari kurang dari 2 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, eksportir AS diperkirakan tidak bisa mempertahankan laju tinggi ini terus-menerus.

Pabrik ekspor LNG AS pada akhirnya harus mengurangi produksi untuk pemeliharaan rutin, ditambah ancaman cuaca ekstrem dan musim badai yang mulai datang pada awal musim panas.

Hal itu berpotensi memicu pengetatan pasar LNG global yang lebih serius dibanding saat ini.

Eropa sejauh ini menjadi pembeli terbesar LNG AS, menyerap sekitar 72% ekspor sepanjang 2026, dengan sembilan dari 10 pembeli terbesar berasal dari kawasan tersebut.

Meski permintaan gas di Eropa biasanya melemah saat musim hangat, persediaan gas kawasan itu saat ini baru terisi sekitar 30% setelah musim dingin yang berat, sehingga tetap membutuhkan pasokan besar untuk pengisian kembali sebelum musim dingin berikutnya. (DK)