Bank sentral China: Stablecoin berisiko untuk kegiatan ilegal
Minggu, 30 November 2025

BEIJING - Bank sentral China kembali menegaskan sikap tegasnya terhadap mata uang virtual pada hari Sabtu, memperingatkan adanya kebangkitan spekulasi serta berjanji menindak aktivitas ilegal yang melibatkan stablecoin.Dikutip dari Reuters pada hari Sabtu (29/11), menurut People's Bank of China (PBOC) mengatakan dalam sebuah pertemuan koordinasi mengenai regulasi mata uang virtual pada hari Jumat bahwa spekulasi kripto belakangan ini meningkat karena berbagai faktor, sehingga menghadirkan tantangan baru bagi pengendalian risiko, menurut pernyataan yang dirilis bank sentral tersebut.
“Mata uang virtual tidak memiliki status hukum yang sama dengan mata uang fiat dan tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di pasar,” kata PBOC dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa aktivitas bisnis terkait mata uang virtual merupakan “aktivitas keuangan ilegal.”Bank sentral tersebut secara khusus menyoroti kekhawatiran terkait stablecoin, dengan mengatakan bahwa stablecoin tidak memenuhi persyaratan identifikasi pelanggan dan kontrol anti pencucian uang.PBOC memperingatkan bahwa stablecoin berisiko digunakan untuk kegiatan ilegal, termasuk pencucian uang, penipuan, dan transfer dana lintas batas tanpa izin.Bank sentral menegaskan akan meningkatkan upaya untuk memerangi aktivitas keuangan ilegal terkait dan menjaga stabilitas ekonomi serta keuangan.
Pada bulan Oktober, Gubernur PBOC Pan Gongsheng mengatakan bahwa bank sentral akan terus menindak operasi dan spekulasi mata uang virtual domestik, sekaligus memantau dan mengevaluasi secara dinamis perkembangan stablecoin di luar negeri.Hong Kong, yang telah membentuk rezim regulasi untuk stablecoin, belum mengeluarkan izin kepada penerbit mana pun. Di China, perdagangan mata uang kripto telah dilarang sejak 2021.Penambangan bitcoin diam-diam mulai bangkit kembali di China meskipun telah dilarang empat tahun lalu, karena para penambang individu maupun korporasi memanfaatkan listrik murah dan ledakan pusat data di beberapa provinsi kaya energi, menurut keterangan para penambang dan data industri. (BS)