Para pemimpin Teluk bahas respon serangan Iran dalam KTT GCC
Rabu, 29 April 2026

RIYADH - Para pemimpin negara Teluk menggelar pertemuan di Arab Saudi pada Selasa untuk membahas respons terhadap serangan Iran yang terus mengguncang kawasan sejak perang AS-Israel melawan Teheran dimulai dua bulan lalu.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memimpin pertemuan konsultatif Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Jeddah, yang menjadi pertemuan tatap muka pertama para pemimpin GCC sejak negara-negara mereka ikut terdampak langsung oleh konflik Iran.
Seorang pejabat Teluk yang enggan disebutkan namanya mengatakan pertemuan itu bertujuan menyusun respons bersama atas ribuan serangan rudal dan drone Iran yang menghantam negara-negara Teluk sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.
Media pemerintah Saudi menyebut pertemuan tersebut membahas berbagai isu regional dan internasional serta koordinasi upaya bersama dalam menghadapinya, mengutip dari Reuters.
Perang Iran telah menyebabkan kerusakan pada infrastruktur energi penting di enam negara anggota GCC.
Selain itu, perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AS, fasilitas sipil, hingga instalasi militer juga menjadi sasaran serangan.
Serangan memang menurun sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April, namun ibu kota negara-negara Teluk masih khawatir konflik dapat kembali memanas karena pembicaraan permanen antara Washington dan Teheran belum membuahkan hasil pasti.
Emir Qatar, Putra Mahkota Kuwait, Raja Bahrain, serta Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab menghadiri pertemuan tersebut. Belum jelas siapa yang mewakili Oman, anggota GCC lainnya bersama Arab Saudi.
GCC juga menghadapi kritik dari Uni Emirat Arab yang menilai respons organisasi tersebut terhadap perang masih terlalu lemah.
Penasihat senior UEA Anwar Gargash mengatakan secara logistik negara-negara GCC memang saling mendukung, namun secara politik dan militer respons mereka menjadi yang paling lemah dalam sejarah.
Ia mengaku tidak terkejut jika sikap lemah itu datang dari Liga Arab, tetapi merasa kecewa karena hal serupa justru terjadi di tubuh GCC. (DK)